Per Senin (1/2) kemarin, Indonesia mencatatkan 175.349 kasus aktif COVID-19 dari total 1.089.308 kasus atau setara 16,1 persen. Sedangkan India hanya mencatat 165.234 kasus aktif COVID-19 dari total 10.767.206 kasus.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 02 Februari 2021 - 09:56 WIB
WowKeren - Kasus aktif COVID-19 di Indonesia dinyatakan sebagai yang tertinggi di Asia, bahkan melampaui India. Per Senin (1/2) kemarin, Indonesia mencatatkan 175.349 kasus aktif COVID-19 dari total 1.089.308 kasus atau setara 16,1 persen. Sedangkan India hanya mencatat 165.234 kasus aktif COVID-19 dari total 10.767.206 kasus.
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 lantas menanggapi tingginya kasus aktif di Indonesia. Menurut Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito, pemerintah saat ini berusaha tetap optimis dengan berbagai kebijakan yang sedang dilakukan.
"Pemerintah berusaha optimis dengan berbagai kebijakan yang sedang dilakukan," terang Wiku dilansir Kompas.com, Senin. Kebijakan ini termasuk Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah Jawa dan Bali yang merupakan kontributor kasus aktif terbesar nasional.
Sementara itu, PPKM baru-baru ini menuai perdebatan lantaran Presiden Joko Widodo mengakui penerapan tahap pertamanya pada 11-25 Januari 2021 lalu tak efektif. Hal ini disampaikan dalam rapat terbatas di Istana Bogor pada Jumat (29/1) pekan lalu, namun video ratas tersebut baru diunggah pada Minggu (31/1) lalu.
"Saya ingin menyampaikan yang berkaitan dengan PPKM tanggal 11 Januari-25 Januari. Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif," papar sang Presiden. "Mobilitas masih tinggi karena index mobility-nya ada. Di beberapa provinsi, COVID-nya masih naik."
Terkait situasi tersebut, Jokowi pun memberikan sejumlah arahan baru kepada jajarannya. Salah satunya adalah dengan meminta Menteri Koordinator (Menko) untuk mengajak pakar epidemiologi sebanyak-banyaknya dalam membuat desain kebijakan PPKM yang komprehensif.
Kekinian, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun memberikan klarifikasi atas pernyataan Jokowi. Ia menjelaskan maksud Jokowi adalah menginginkan kebijakan pembatasan yang lebih mikro.
”Beliau berkeinginan menyampaikan sekarang, agar bisa lebih mikro sifatnya,” kata Budi Sadikin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Senin. “Jadi lebih detail, lebih rinci, dilihat penyebabnya dimana, itu yang dikunci.”
(wk/Bert)