BMKG mengidentifikasi hingga 646 gempa bumi tektonik sepanjang Januari 2021, dengan 3 di antaranya bersifat merusak. Potensi gempa ini pun masih berlanjut hingga Februari.
- Elvariza Opita
- Selasa, 02 Februari 2021 - 16:16 WIB
WowKeren - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap data mengejutkan soal gempa bumi di Indonesia sepanjang Januari 2021. Tercatat ada hingga 646 kali gempa bumi tektonik yang tercatat oleh lembaga tersebut, dengan skala kekuatan berbagai magnitudo serta tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Jumlah gempa ini praktis menjadikannya lebih tinggi ketimbang rata-rata bulan Januari biasanya, yakni sebanyak 555 kali. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020 silam yang "hanya" 518 kali, maka jumlah gempa bumi yang dialami kali ini jauh lebih banyak.
Secara umum, aktivitas gempa Indonesia didominasi dengan gempa kecil berkekuatan kurang 5,0 magnitudo yang terjadi sebanyak 619 kali. Kemudian ada 27 kali gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0.
Kemudian bila merujuk pada kelompok gempa dirasakan (felt earthquake), maka sepanjang Januari 2021 terjadi sebanyak 85 kali. Angka ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan Januari 2020 yang terjadi sebanyak 54 kali.
Hampir setiap hari di bulan Januari 2021 selalu ada gempa dirasakan, dengan yang terbanyak pada 14 Januari 2021 yakni sebanyak 8 kali. Kemudian ada 3 kali gempa yang bersifat merusak pula sepanjang bulan tersebut.
Selain gempa magnitudo 5,9 dan 6,2 di Sulawesi Barat atau magnitudo 7,1 di Sulawesi Utara pertengahan Januari 2021, sebuah gempa merusak juga terjadi pada awal Januari. Gempa ini terjadi di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah dengan magnitudo 4,9 pada 4 Januari 2021 dan menyebabkan beberapa rumah rusak.
Ada sejumlah zona aktif gempa yang teridentifikasi dan kemungkinan kembali merasakan dampaknya di Februari 2021. Seperti misalnya Aceh, Nias, Bengkulu, Lampung, Lombok, Sumbawa, Sumba, Sulbar, Sulteng, Gorontalo, Laut Maluku, dan Seram.
Karena itulah BMKG lantas menitipkan sejumlah pesan penting untuk masyarakat. "Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik tetapi waspada. Kita harus merespon semua informasi tersebut dengan upaya mitigasi yang konkret," ujar BMKG.
"Gempa dan tsunami adalah proses alam yang tidak dapat kita hentikan," imbuh BMKG. "Tetapi yakinlah bahwa kita akan mampu mengurangi risikonya dengan upaya mitigasi nyata dan sungguh-sungguh."
Beberapa upaya mitigasi yang bisa mulai dipersiapkan seperti membangun rumah tahan gempa atau menatap ruang pantai yang aman tsunami. Atau belajar cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami, evakuasi mandiri tsunami, dan meningkatkan kemampuan dalam merespon peringatan dini.
(wk/elva)