Jelang Setahun COVID-19 RI, IDI Laporkan 718 Tenaga Medis Wafat Akibat Wabah
Pixnio
Nasional
COVID-19 di Indonesia

PB IDI melaporkan 718 tenaga kesehatan meninggal akibat infeksi virus SARS-CoV-2 hingga 28 Februari 2021 kemarin, dengan 325 di antaranya merupakan dokter.

WowKeren - Tepat pada 2 Maret 2020 tahun lalu, Indonesia mengumumkan kasus perdana COVID-19. Dan jelang tepat setahun perjalanan COVID-19 di Tanah Air, sudah lebih dari 1,3 juta orang yang terkonfirmasi positif, begitu pula dengan 36 ribu lebih pasien meninggal.

Dan di antara 36 ribu korban jiwa tersebut, terdapat 718 tenaga kesehatan yang ikut meregang nyawa akibat infeksi saluran pernapasan ini. "Lebih dari 718 nakes gugur. Angka kematian tenaga medis ini terus meningkat," ujar Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Adib Khumaidi dalam konferensi pers virtual, Senin (1/3).

Padahal jika menilik kembali pernyataan resmi yang disampaikan PB IDI pada akhir Januari 2021 lalu, ada 647 nakes yang meninggal akibat pandemi COVID-19. Dengan demikian, ada tambahan hingga lebih dari 50 nakes dalam sebulan yang meninggal akibat infeksi virus SARS-CoV-2.

Lebih rinci dijelaskan Adib, jumlah nakes yang meninggal terbanyak dari dokter yakni sebanyak 325 jiwa. Menurut catatan ID, jumlah dokter yang meninggal akibat pandemi meningkat dibandingkan dengan data per 17 Januari 2021 yaitu sebanyak 278 orang.


Kemudian, tenaga kesehatan lain yang tidak tertolong adalah 33 dokter gigi dan 234 perawat per 15 Februari 2021. Lalu 106 bidan per 10 Februari 2021, 11 apoteker, dan 17 ahli teknologi laboratorium medis (ATLM).

"Mudah-mudahan tidak ada lagi kematian nakes," ungkap Adib. Pasalnya saat ini semua lini tenaga medis sangat berperan krusial dalam penanganan COVID-19. Sehingga sangat besar harapan Adib agar pemerintah meningkatkan perlindungan terhadap tenaga kesehatan.

Kendati demikian, jika fokus pada angka kematian di kalangan dokter, IDI menilai ada sedikit penurunan meski tidak signifikan. Sebab per 28 Februari 2021, ada 325 dokter yang meninggal akibat infeksi ini.

"Artinya ini kalau dibandingkan pada saat tanggal 10 Februari yang 317 kemudian sekarang 325. Dan dibandingkan pada saat tanggal 17 Februari kenaikan atau bertambahnya jumlah kematian mudah-mudahan tidak ada lagi dan cenderung turun," tutur Adib.

Meski penurunannya tidak begitu signifikan, Adib menyebut hal ini tetap harus diapresiasi. Hal ini juga terkait dengan angka pasien yang dirawat di ruang isolasi juga mengalami tren penurunan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts