Postingan akun @mas_recruiter yang berisi imbauan agar masyarakat tidak mudah mengirim data pribadi serta swafoto dengan memegang KTP saat melamar kerja menjadi viral di Twitter.
- Nidya Putri
- Jumat, 19 Maret 2021 - 20:57 WIB
WowKeren - Sebuah postingan di media sosial Twitter terkait imbauan untuk tidak mudah mengirim data pribadi serta swafoto dengan memegang KTP saat melamar kerja menjadi sorotan baru-baru ini. Postingan tersebut diunggah oleh akun @mas_recruiter.
Pemilik akun tersebut meminta masyarakat untuk waspada dan berhati-hati apabila ada panggilan kerja namun. Ia juga mengingatkan pentingnya untuk meriset perusahaan terlebih dahulu.
Disebutkan jika foto KTP, swafoto dengan KTP, dan NPWP semestinya tidak diperlukan dalam proses awal rekruitmen. "Ketika ada panggilan kerja atau proses rekrutmen dari suatu perusahaan, biasakan riset perusahaannya ya! #TipsMase Apalagi kalau sampe harus upload KTP, selfie dengan KTP, dan NPWP di awal proses itu Bullshit! Ini syarat administasi konyol, hati-hati datamu disalah gunakan.." cuitnya di Twitter, Kamis (18/3).
Menurut seorang ahli IT sekaligus Dosen Ilmu Komputer Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Rosihan Ari Yuana, memang penting bagi masyarakat untuk tak sembarangan mengirim data pribadi. Pasalnya, data pribadi seperti KTP yang dikirimkan ke pihak perusahaan bisa disalahgunakan jika perusahaannya abal-abal.
"Bisa jadi. Apalagi kalau perusahaannya abal-abal, cuma ingin ngambil data-data, lalu dijual ke pihak ke tiga," ujar Rosihan dikutip dari Kompas, Jumat (19/3). "Terkait swafoto KTP biasanya hanya untuk mengecek apakah KTP yang dia kirimkan benar-benar milik yang bersangkutan atau tidak."
Ia menyarankan agar para pencari kerja dan masyarakat perlu memastikan perusahaan yang akan dilamar itu asli atau palsu. "Sebaiknya dicek dulu company profile-nya, satu-satunya cara lewat website saja," pesannya.
Apabila perusahaan tersebut tidak memiliki website atau media sosial maka patut dicurigai. "Patut dicurigai, sebaiknya jangan dikirim," tegasnya.
Selain itu bisa searching menggunakan keyword 'nama perusahaan' dan 'penipu'. Rosihan mengatakan jika memang itu abal-abal, nanti akan muncul laman-laman testimoni orang-orang yang pernah tertipu. "Memang yang paling tepat adalah langsung cek ke lokasi perusahaan, benar tidaknya," pungkasnya.
(wk/nidy)