Wapres Soroti Rendahnya Pertumbuhan Industri Kesehatan: Kemandirian Produksi Obat Sangat Mendesak
Twitter/Kiyai_MarufAmin
Nasional

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyatakan bahwa tingkat kemandirian Indonesia dalam bidang kesehatan masih cukup rendah. Simak penuturan lengkapnya berikut ini.

WowKeren - Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyoroti tingginya aktivitas impor obat dan alat kesehatan di Tanah Air. Menurutnya, hal ini menunjukkan tingkat kemandirian Indonesia yang masih cukup rendah dalam bidang kesehatan.

"90 persen bahan baku obat-obatan masih diimpor dari luar negeri. Sama seperti yang terjadi dengan obat, sekitar 94 persen alat kesehatan (alkes) yang beredar di Indonesia merupakan produk impor," kata Ma'ruf saat memberikan sambutan dalam webinar Majelis Wali Amanat (MWA) di Universitas Indonesia, Kamis (25/3).

Kalaupun ada produk alat kesehatan buatan dalam negeri, bahan baku yang digunakan biasanya masih cukup sederhana. Proses produksinya pun menggunakan teknologi yang belum begitu canggih.

Hal itu, kata Ma'ruf, dapat dibuktikan dengan rendahnya tingkat pertumbuhan industri alat kesehatan yang tak sampai menyentuh angka 20 persen. "Sampai saat ini alkes yang diproduksi di dalam negeri masih didominasi oleh produk-produk dasar dengan teknologi sederhana, dengan angka pertumbuhan industri alkes mencapai 12 persen setiap tahunnya," papar Ma'ruf.


Ma'ruf kemudian menyinggung keterbatasan obat dan alat kesehatan yang dimiliki Indonesia dalam mengatasi pandemi COVID-19 di awal 2020. Menurutnya, hal itu menjadi hambatan besar dalam pengendalian virus Corona di tanah air.

"Pandemi COVID-19 juga menyadarkan kita bahwa kemandirian dalam bidang kesehatan menjadi sangat penting, yang meliputi ketersediaan SDM, obat-obatan, dan alat kesehatan, serta kemampuan riset, termasuk surveilan genomik," jelasnya.

Karena itulah ia menganggap persoalan ini sebagai PR besar bagi pemerintah, agar mendorong kemandirian produksi obat dan alat kesehatan dalam negeri. "Upaya mendorong kemandirian produksi obat khususnya obat generik, menjadi sangat mendesak untuk dilakukan," tegas Ma'ruf.

Selain dalam hal produksi, Ma'ruf juga berharap ada peningkatan kemandirian di ranah riset dan pengembangan alat-alat kesehatan. Terutama karena saat ini hanya ada 178 perusahaan farmasi swasta nasional, 24 perusahaan multi-nasional serta 4 BUMN menurut data terakhir tahun 2019.

"Selain itu, perlu dilakukan peningkatan kapasitas lembaga riset, termasuk kapasitas surveilan genomik. Saya berharap kemampuan ini dan riset pengembangan alat-alat kesehatan serta obat-obatan terus ditingkatkan. Karena hal ini sangat vital bagi upaya kita membangun kemandirian kesehatan," pungkas mantan Ketua MUI tersebut.

(wk/eval)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait