Gibran merupakan Wali Kota Solo yang diusung oleh PDIP pada Pilkada 2020 lalu. Putra sulung Presiden Joko Widodo tersebut berhasil menang telak atas paslon jalur independen, Bagyo Wahyono-FX Supardjo.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 27 Maret 2021 - 16:58 WIB
WowKeren - Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Effendi Simbolon mengungkapkan perbedaan antara Gibran Rakabuming dengan Puan Maharani. Menurut Effendi, Gibran merupakan kader PDIP yang cenderung instan dalam memasuki dunia politik hingga menjadi kepala daerah.
"Gibran ya nyata jelas instan, fast growing gitu ya," tutur Effendi dalam diskusi virtual di kanal YouTube MNC Trijaya FM, Sabtu (27/3). "Tapi kan Indonesia sebagian orang ya mengamini itu, antara lucu dan tidak lucu di Indonesia ini kan sering terjadi, dan akhirnya diidolakan."
Sebagai informasi, Gibran merupakan Wali Kota Solo yang diusung oleh PDIP pada Pilkada 2020 lalu. Putra sulung Presiden Joko Widodo tersebut berhasil menang telak atas paslon jalur independen, Bagyo Wahyono-FX Supardjo, di Pilwalkot Solo 2020.
Sementara itu, Puan yang kini menjabat sebagai Ketua DPR RI disebut Effendi telah berkecimpung di dunia politik sejak lama. Oleh sebab itu, Effendi menyebut putri Megawati Soekarnoputri tersebut berbeda dengan Gibran.
"Kalau mbak Puan sudah sangat lama ya, dari zaman dia kuliah, saya kira sudah dari puluhan tahun yang lalu ya," ungkap Effendi. "Kan tidak ujug-ujug masuk dalam dunia politik praktis gitu. Jadi akan berbeda kalau dengan Gibran ya."
Di sisi lain, Effendi juga sempat ditanyai soal ada tidaknya dominasi keluarga di PDIP. Menurut Effendi, keluarga biologis biasanya memiliki turunan ideologis yang sama.
"Tapi ada juga yang ingin pragmatis, seperti bapaknya dimana, ibunya dimana, anaknya dimana, yang penting sama-sama masuk Senayan. Yang penting jadi Bupati, jadi Wali Kota," tuturnya. "Itu yang saya kira sebenarnya justru menjadi pertanyaan di kita. Itu menjadi partai hanya sebagai alat semata."
Effendi membetulkan bahwa partai merupakan sebuah kendaraan politik. Namun bukan berarti suatu partai bisa diperalat begitu saja.
"Bagi kita ya sah-sah saja, tapi orang bisa menilai sendiri," jelasnya. "Itu kan terjadi juga di Negeri kita, ada yang ingin fast growing gitu, yang model instan."
(wk/Bert)