Hendropriyono juga menilai bahwa kini sudah ada banyak orang yang terbawa arus pengkhianatan mendukung ideologi khilafah, liberalisme, kapitalisme, komunisme, atau ideologi asing lain.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 20 Mei 2021 - 10:54 WIB
WowKeren - Konflik antara Palestina dan Israel yang memanas belakangan ini tengah ramai diperbincangkan di seluruh dunia. Masyarakat Indonesia sendiri ramai-ramai menyuarakan dukungan bagi warga Palestina yang telah kehilangan ratusan nyawa.
Isu ini lantas turut ditanggapi oleh mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono. Menurutnya, konflik Palestina-Israel bukanlah urusan Indonesia, melainkan urusan bangsa Arab dan Yahudi.
"Palestina dan Israel bukan urusan kita (Indonesia), melainkan urusan mereka, bangsa Arab dan Yahudi. Urusan Indonesia adalah nasib kita dan hari depan anak cucu kita," tutur Hendropriyono dikutip dari Berita Satu, Kamis (20/5). Ia juga meminta teman-teman sesama anggota Kerukunan Keluarga (KEKAL) Akmil 1967 untuk memikirkan nasib bangsa Indonesia.
"Untuk nasib bangsa kita, saya mohon KEKAL Akmil 1967 tidak diam saja, tapi mikir, ngomong dan berbuat sebisanya," tutur Hendropriyono. "Negara kita sedang diserang oleh pemikiran ideologi khilafah."
Lebih lanjut, Hendropriyono menilai bahwa kini sudah ada banyak orang yang terbawa arus pengkhianatan mendukung ideologi khilafah, liberalisme, kapitalisme, komunisme, atau ideologi asing lain. Hendropriyono pun mengaku ada pihak yang mengkritiknya karena membela Pancasila.
"Kalau ada yang melecehkan saya karena saya membela filsafat dasar bangsa kita, Pancasila, tolong merapatkan barisan dengan saya untuk membela diri, bangsa kita sendiri," jelasnya. "Ironis sekali orang yang mengkritik saya membela Pancasila, demi membela negeri sendiri, tapi dia menggebu-gebu membela Palestina."
Lebih lanjut, ia mengaku tak yakin jika pihak pengkritiknya sudah mengatahui pasti soal konflik Israel dan Palestina. Oleh sebab itu, Hendropriyono mempertanyakan mengapa mereka justru membela bangsa lain.
"Apakah pengkhianat itu kenal dengan Mahmoud Abbas, atau kenal dengan Ismail Haniyeh, atau kenal sama Reuven Rivlin, atau Benjamin Netanyahu? Saya yakin tidak kenal," paparnya. "Yang dia kenal adalah anak, istri, mantu, dan cucu sendiri. Kenapa yang dibela orang-orang yang tidak dikenal?"
Ia pun mengajak masyarakat untuk menjaga Indonesia agar tetap berdiri dengan ideologi Pancasila. "Kita harus tetap berdiri di atas tanah air bangsa kita sendiri. Bukan di atas tanah Palestina, bukan Israel, bukan Arab," pungkasnya.
(wk/Bert)