Pengembang GeNose C19 dari UGM memutakhirkan kecerdasan buatan (AI) yang menjadi dasar penggunaan alat skrining COVID-19 tersebut, termasuk untuk mendeteksi varian D64G.
- Elvariza Opita
- Senin, 24 Mei 2021 - 15:10 WIB
WowKeren - GeNose C19 yang dikembangkan di Universitas Gadjah Mada sudah menjadi salah satu alat deteksi COVID-19 yang digunakan secara luas di Indonesia. Sebagai contoh, pelaku perjalanan jarak jauh diwajibkan menunjukkan hasil negatif tes COVID-19 memakai GeNose sebelum berangkat atau bisa digantikan dengan rapid test antigen atau tes swab PCR.
Kini teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) produk tersebut pun dimutakhirkan. Hal ini disampaikan tim inventor GeNose C19 dalam konferensi pers hari Minggu (23/5) kemarin.
dr. Dian Kesumapramudya Nurputra M.Sc, Ph.D, SpA menerangkan bahwa AI GeNose C19 telah diperbarui menjadi versi 1.3.2 build 6 yang diperkuat dari segi interface-nya agar lebih ramah bagi operator alias user friendly. Kemudian basis data yang dipakai juga lebih besar dan fitur pembacaan kurva yang dilakukan secara manual.
"Pembaruan ini untuk menanggapi berbagai macam permintaan dari dokter, tenaga kesehatan, dan pengguna yang ingin mempelajari bentuk-bentuk kurva hasil pembacaan alat GeNose C19," tutur Dian. "Dan menunjukkan bagaimana sebenarnya kurva pasien yang positif dan negatif."
Dengan pembaruan ini, Dian menuturkan GeNose C19 akan lebih akurat sehingga dapat lebih baik melayani masyarakat. Salah satunya adalah dengan cakupan varian baru virus SARS-CoV-2 yang bisa dideteksi oleh GeNose C19.
"Varian D64G sudah masuk ke database yang sekarang," terang Dian, dikutip dari laman resmi UGM, Senin (24/5). "Dan kami akan terus melakukan pembaruan secara rutin dan berkala sehingga akan lebih aware di lapangan."
Akses data untuk varian baru ini didapat dari rumah sakit yang merawat pasien dengan kondisi tersebut. Selain itu, tim inventor yang diketuai Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si itu juga menyertakan pembaruan pada standar operasional prosedur (SOP) dan buku manualnya.
SOP GeNose C19 yang baru kini lebih ringkas dan sederhana untuk operator. Tak hanya itu, peneliti juga akan memberikan pelatihan dan mengirim mesin GeNose C19 versi terbaru ke setiap institusi.
Pada kesempatan yang sama, Prof Kuwat juga menegaskan pihaknya siap melakukan kalibrasi ulang untuk setiap mesin GeNose C19. "Kalibrasi ini berguna untuk menyeragamkan atau membuat sistem konsisten, antara mesin satu dan lainnya," jelas Prof Kuwat.
(wk/elva)