Bisa Serang Penyintas COVID-19, Infeksi Jamur Hitam Ternyata Ada di RI Sejak Sebelum Pandemi
Wikimedia Commons/Ran Yuping et al.
Nasional

Di India, infeksi jamur hitam turut memperburuk krisis kesehatan yang terjadi. Pakar pun memperkirakan infeksi yang bisa menyerang penyintas COVID-19 ini juga akan terjadi di Indonesia.

WowKeren - India bukan hanya harus bertahan dari ledakan kasus COVID-19, tetapi juga infeksi jamur hitam yang menyerang para penyintas. Pakar Epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, pun memperkirakan wabah infeksi serupa bisa juga melanda Indonesia.

Namun Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa belum ada temuan kasus infeksi jamur hitam yang menyerang para penyintas COVID-19 di Indonesia. Kendati demikian, infeksi ini tetap harus diwaspadai sebab Dokter Spesialis Paru dr. Anna Rozaliyani, Sp.P(K) menuturkan penyakit mukormikosis sudah berkembang di Indonesia jauh sebelum pandemi COVID-19 melanda.

Setidaknya sudah ada 300 orang yang meninggal dunia akibat infeksi jamur hitam di Indonesia. Dan menurut Anna, infeksi akibat jamur Mucormycetes ini memang bisa dijumpai di negara mana saja, terutama dengan lingkungan yang tidak bersih.

"Beberapa masa sebelum pandemi, kita sudah terima laporan kasus," tutur Anna dalam webinar Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Kamis (3/6). "Terutama di RS Persahabatan ada, RS Cipto. Kita ketemu kasus pada pasien THT."

Hanya saja jumlah kasus mukormikosis di Tanah Air tak sebanyak di India. Menurut Anna, jumlah dari seluruh daerah bahkan tidak mencapai 50 kasus dalam setahun.


"Tetapi meskipun kelihatan jumlahnya sedikit, penyakit ini angka kematiannya sangat tinggi," sambung Anna menegaskan. Perihal angka kematian akibat infeksi jamur hitam ini memang turut memperburuk krisis kesehatan di India.

Menurut Anna, seseorang yang terinfeksi mukormikosis akan sulit sembuh apalagi jika pengobatannya terlambat. Karena itulah potensi pasiennya untuk meninggal juga cukup tinggi. Jamur Mucormycetes yang menyebabkan infeksi ini pun memiliki karakteristik sangat cepat bertumbuh di dalam tubuh manusia.

"Kita PR lagi ketersediaan obat. Obat yang ditanggung Kemenkes jumlahnya sangat sedikit di Indonesia," ujarnya, dikutip dari Suara.

"Obat anti jamur itu tidak sampai 10, mungkin hanya 3 sampai 4 yang sudah beredar di masyarakat. Ada juga yang mengatakan kalau salah berikan obat berpotensi munculkan infeksi yang tidak cocok," sambungnya.

Namun setidaknya belum ada laporan infeksi mukormikosis di masyarakat Indonesia selama pandemi terjadi. Hanya saja, Anna malah mengaku khawatir infeksi ini berkembang tanpa terdeteksi lantaran laboratorium yang belum mampu mendiagnosis mukormikosis.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait