Benjamin Netanyahu Lengser Usai 12 Tahun Jabat PM, Israel Sambut Era Baru
Instagram/b.netanyahu
Dunia

Pemerintah baru disebut berencana untuk menghindari langkah besar pada isu-isu internasional hangat seperti kebijakan terhadap Palestina, dan fokus pada reformasi domestik.

WowKeren - Hari Minggu (13/6) menandai berakhirnya rekor 12 tahun Benjamin Netanyahu menjabat sebagai perdana menteri di Israel. Pada hari itu, parlemen menyetujui "pemerintah perubahan" baru yang dipimpin oleh nasionalis Naftali Bennett.

Hasil ini pun disambut antusias. Di Tel Aviv, ribuan orang menyambutnya dengan positif setelah empat pemilihan yang tidak meyakinkan dalam dua tahun.

"Saya di sini merayakan akhir sebuah era di Israel," kata Erez Biezuner di Rabin Square. "Kami ingin mereka berhasil dan menyatukan kami lagi."

Kendati demikian, Netanyahu menegaskan bahwa dia akan segera kembali ke pemerintahan lebih cepat dari yang diharapkan. "Jika kami ditakdirkan untuk menjadi oposisi, kami akan melakukannya dengan kepala tegak sampai kami dapat menggulingkannya," katanya kepada parlemen sebelum Bennett dilantik.


Pemerintah baru disebut akan lebih fokus untuk menangani isu-isu domestik. Mereka berencana untuk menghindari langkah besar pada isu-isu internasional yang hangat seperti kebijakan terhadap Palestina.

Kendati demikian, warga Palestina tampaknya tidak akan terpengaruh dengan perubahan pemerintah Israel. Mereka memprediksi bahwa Bennett yang merupakan mantan kepala pertahanan yang menganjurkan pencaplokan bagian-bagian Tepi Barat yang diduduki, akan mengejar agenda sayap kanan yang sama seperti pemimpin partai Likud Netanyahu.

Di bawah kesepakatan koalisi, jabatan Bennet tak akan lebih dari 2 tahun. Bennett yang seorang Yahudi Ortodoks berusia 49 tahun sekaligus jutawan teknologi tinggi, akan digantikan sebagai perdana menteri pada tahun 2023 oleh Yair Lapid. Ia adalah seorang mantan pembawa acara televisi yang populer.

Sebelumnya, Bennett pernah menjabat sebagai kepala staf Netanyahu. Namun ia memiliki hubungan yang sulit dengannya sebagai menteri pertahanan. Meskipun mereka berdua sayap kanan, Bennett menolak seruan Netanyahu setelah pemilihan 23 Maret untuk bergabung dengannya.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden ikut menanggapi pergantian ini. "Pemerintahan saya berkomitmen penuh untuk bekerja dengan pemerintah Israel yang baru untuk memajukan keamanan, stabilitas, dan perdamaian bagi Israel, Palestina, dan orang-orang di seluruh wilayah yang lebih luas," ujarnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts