Satgas COVID-19 menerangkan penyebab khusus mengapa tingkat positivity rate di Indonesia sangat tinggi, yang ternyata dipengaruhi oleh kapasitas testing.
- Elvariza Opita
- Jumat, 25 Juni 2021 - 15:40 WIB
WowKeren - Indonesia sedang dihadapkan dengan lonjakan kasus COVID-19. Dan di tengah banyaknya kasus positif tersebut, tentu tingkat positivity rate-nya juga tinggi.
Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pun memberi penjelasan di balik positivity rate yang tinggi ini. Juru Bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito meminta agar persentase ini tidak ditafsirkan secara seihak karena ada alasan khusus di baliknya.
Wiku menerangkan positivity rate ditentukan dari berapa banyak orang yang diperiksa, sehingga ada beberapa faktor yang memengaruhi akurasinya. Termasuk soal jumlah orang sehat yang tidak menjalani tes sehingga positivity rate-nya tinggi.
"Karena sudah dikerucutkan pada orang yang memiliki gejala atau kontak," jelas Wiku, Jumat (25/6). "Di Indonesia, umumnya orang sehat tidak menjalani tes COVID-19 dan ini dapat mempengaruhi angka positivity rate."
Sedangkan di Indonesia, tes difokuskan kepada mereka yang sudah memiliki gejala atau kontak dekat. Hal ini dilakukan demi mengejar kapasitas testing di tengah terbatasnya sumber daya dan akses pada fasilitas tes COVID-19.
Sementara untuk kebutuhan skrining, Kementerian Kesehatan menyarankan pemakaian rapid test antigen. Kebijakan ini pun terus diperbarui dengan mempertimbangkan kenyamanan masyarakat, terutama mereka yang mobilitasnya tinggi.
"Ini mempertimbangkan antigen jauh lebih cepat dan murah. Dengan akurasi mendekati tes PCR," papar Wiku. "Antigen digunakan untuk melacak kontak erat."
"Penegakan diagnosisi dan skrining COVID-19 dengan kondisi tertentu," sambung Wiku. "Seperti menghadiri kegiatan atau sebagai syarat bila seseorang ingin melakukan perjalanan."
Sementara pemerintah terus melakukan berbagai hal demi mengantisipasi lonjakan wabah COVID-19. Seperti yang sempat disampaikan Menkes Budi Gunadi Sadikin yakni "menyulap" seluruh ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk perawatan pasien, sedangkan IGD tenda akan dibangun di luar bangunan RS.
Selain itu, Satgas COVID-19 juga mengingatkan tidak semua pasien positif harus dibawa ke rumah sakit. "Pasien dengan gejala berat dan sedang yang berhak didahulukan untuk mendapatkan penanganan, baik isolasi maupun perawatan intensif di rumah sakit," beber Wiku, Kamis (24/6).
(wk/elva)