Harmoko eks Menteri Penerangan yang juga tangan kanan dari Presiden Soeharto kala itu, meninggal dunia pada Minggu (4/7). Berikut jejak Harmoko awal mula menjadi tangan kanan Presiden ke-2 Soeharto.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Senin, 05 Juli 2021 - 08:12 WIB
WowKeren - Pada Minggu (4/7) kemarin, Harmoko eks Menteri Penerangan yang juga menjadi tangan kanan Presiden ke-2 Soeharto meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto. Kabar duka ini disampaikan oleh Ketua DPP Golkar Dave Laksono.
Pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, 7 Februari 1939 ini dulunya merupakan seorang kartunis yang kemudian menjadi Menteri Penerangan di era Soeharto selama tiga periode yakni 1983 hingga 1997. Selama masa jabatannya itu, Harmoko memegang kewenangan luar biasa yang bisa menentukan hidup dan mati media massa di masa Orde Baru (Orba). Namun saat masa Orba tumbang, Harmoko masih tetap bertahan.
Sebelum masuk ke dunia politik, Harmoko merupakan seorang wartawan dan kartunis di Harian Merdeka dan Majalah Merdeka pada 1960. Kemudian pada 1964, Harmoko menjadi wartawan di Harian Angkatan Bersenjata. Harmoko pun sempat bergonta-ganti media sebelum akhirnya mendirikan Harian Pos Kota bersama sejumlah rekannya di tahun 1970.
Jejak Harmoko di dunia media menarik perhatian Presiden Ke-2 itu, lantas membuat Soeharto mengangkatnya sebagai Menteri Penerangan di tahun 1983. Selama menjabat Menteri Penerangan, Harmoko menjadi dalang dibalik pembredelan beberapa media seperti Tempo, DeTik, dan Editor dengan alasan stabilitas pemerintah.
Selain diangkat menjadi Menteri Penerangan, Harmoko diketahaui juga menjadi tangan kanan atau orang kepercayaan Soeharto. Buah dari kerja keras Harmoko mengontrol pers, membuatnya dipilih menjadi Ketua Umum Golkar pada 1993. Padahal, saat itu Golkar hanya dipimpin oleh mantan jenderal.
Namun menjelang Pemilihan Presiden tahun 1998, Soeharto sebenarnya berniat untuk mundur, tetapi Harmoko mendukungnya untuk melanjutkannya. Setelah itu, krisis moneter terjadi pada Mei 1998 dan menimbulkan kerusuhan parah.
Kala itu, ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR dan mendesak agar Soeharto mundur. Tak disangka publik, Harmoko berbicara di depan umum dan menyatakan dukungannya agar Soeharto turun.
"Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, Pimpinan Dewan, baik Ketua maupun Wakil-wakil Ketua, mengharapkan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri," tutur Harmoko kala itu saat menjadi Ketua DPR/MPR.
Pernyataan dari Harmoko tersebut lantas membuat banyak orang kaget, sebab ia dikenal sebagai tangan kanan Soeharto yang juga mendukungnya untuk menjadi Presiden ketujuh kalinya. Pada akhirnya pun Soeharto turun usai 32 tahun menjabat sebagai Presiden RI.
Terkait dengan alasan dibalik meninggalnya Harmoko adalah sudah sakit sejak beberapa tahun lalu. Kemudian pada Mei lalu, kondisi kesehatannya sudah semakin menurun lantaran usianya yang sepuh. Bahkan Dimas sang anak menyebut ayahnya sudah tidak bisa berkomunikasi.
(wk/tiar)