Kisah Pilu Ibu di Myanmar Melahirkan Diam-Diam di Tengah Kepungan Tentara
Piqsels
Dunia

Militer mengepung desa tempat Rosemary tinggal. Namun ia tak bisa ikut kabur dari kejaran tentara dan terpaksa bertahan hanya berdua dengan bidan Mai Nightingale, hingga melahirkan secara seadanya.

WowKeren - Myanmar bukan hanya dihadapkan dengan krisis kesehatan akibat pandemi COVID-19 seperti negara lain, tetapi juga krisis politik, keamanan, sampai kemanusiaan. Hal ini tak lepas dari kudeta yang dilakukan junta militer yang menggulingkan kekuasaan kubu Aung San Suu Kyi.

Tentara pun digerakkan untuk menumpas setiap pihak yang dianggap melawan kudeta dan kekuatan militer. Situasi ini memaksa masyarakat Myanmar untuk mengungsi jika tentara, yang tak segan melakukan tindakan represif, tiba.

Namun Rosemary, seorang penduduk Kota Mindat, tidak bisa mengikuti jejak suami dan penduduk lain melarikan diri. Sebab di malam badai itu, Rosemary harus berjuang melawan kontraksi parah menjelang kelahiran anaknya. Alhasil ia dan seorang bidan, Mai Nightingale (25), bertahan di desa dengan ketakutan militer akan tiba-tiba menemukan mereka.

"Hanya kami berdua yang tertinggal di desa. Kami menutup semua pintu dan jendela rumah, kami berdiam diri di dalam," ungkap Mai Nightingale, menceritakan detik-detik menegangkan hidupnya kala itu. Nama yang disebutkan di berita yang dilansir dari Al Jazeera ini telah disamarkan demi keamanan narasumber.

"Ketika dia (Rosemary) merasa kesakitan, saya membekap mulutnya dengan selimut," imbuh Mai Nightingale. "Kami takut tentara akan mendengar rintihan kesakitannya."


Awalnya Rosemary dan Mai Nightingale sudah akan mengikuti jejak penduduk lain untuk kabur dari desa mereka. Namun tidak ada tempat istirahat memadai untuk proses persalinan Rosemary, sehingga keduanya, bermodal nekat, bertahan di desa dengan dibayangi ketakutan.

"Situasinya sangat tidak memungkinkan untuk persalinan," tutur Mai Nightingale. "Kami melihat militer berjalan menuju desa kami, tetapi kami tidak bisa kabur karena (Rosemary) sangat kelelahan."

Suami Rosemary terpaksa meninggalkan istri dan bidan muda itu karena nyawanya pun terancam. Militer memang cenderung lebih brutal menyerang lelaki muda karena dianggap bagian dari kelompok bersenjata yang kontra terhadap kudeta.

Tak lama setelah suasana makin sunyi karena militer sudah berlalu, Rosemary melahirkan bayinya. Mai Nightingale terpaksa menggunakan peralatan seadanya, seperti silet dan benang yang disterilkan hanya dengan rebusan air, untuk membantu persalinan pasiennya itu.

Beruntung bayi Rosemary lahir dengan sehat dan selamat. Namun kejadian yang dialami Rosemary ini jelas menunjukkan seberapa buruk krisis yang terjadi di Myanmar imbas kudeta oleh junta militer.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts