ITAGI Ungkap 'Kelemahan' Vaksin COVID-19 Pfizer, Bikin Tak Bisa Rata Menyebar di Indonesia?
Flickr/[email protected]
Nasional
Vaksin COVID-19

Akhir Agustus 2021 nanti Indonesia akan kedatangan 3 juta dosis vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech. BPOM menetapkan efikasi vaksin ini mencapai 94,5 persen.

WowKeren - Kemampuan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech banyak disanjung, bahkan sampai membuat sejumlah WNI mencarinya "ke ujung dunia". Dan sedianya vaksin ini pun akan tiba di Indonesia pada akhir Agustus 2021, yakni sebanyak 3 juta dosis yang efikasinya disampaikan sebesar 95,4 persen.

Namun ternyata vaksin Pfizer memiliki kelemahan, seperti diungkap Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI). Ketua ITAGI, Prof Sri Rezeki Hadinegoro menyampaikan bahwa vaksin berbasis mRNA ini memiliki tantangan besar dari segi penyimpanan, yakni membutukan penyimpanan rantai dingin (cold chain) dengan suhu di -70 derajat Celsius.

"Pfizer itu tidak mudah penyimpanannya ya, harus di bawah -70 (derajat Celsius)," terang Sri kepada Kumparan, Jumat (23/7). "Nah, ini yang lebih sulit lagi untuk pemerintah."

Permasalahannya, alat yang mampu menyimpan dengan suhu seekstrem itu masih sangat terbatas di Indonesia. Cold chain pun, dijelaskan Sri, memerlukan daya listrik yang tinggi, yang membuat sang Ketua ITAGI meyakini tidak semua daerah akan mendapatkan vaksin Pfizer.


"Ada cuma kan enggak banyak. Itu kan listriknya aja harus tinggi," kata Sri. "Itu kemudian juga mahal, enggak mungkin di daerah punya (tempat penyimpanan dengan suhu) -70 (derajat Celsius)."

Karena itulah, Sri mengaku cemas vaksin Pfizer tidak akan bisa disebar merata ke seluruh wilayah Indonesia, lagi-lagi karena kebutuhan tempat penyimpanannya. Karena itulah ia juga memperkirakan bahwa hanya daerah tertentu yang bisa didistribusikan vaksin Pfizer.

"Jadi tidak merata, mesti dipilihlah (daerah) mana yang paling membutuhkan," pungkas Sri. Perihal masalah penyimpanan cold chain ini pun pernah disampaikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Vaksin dengan metode mRNA memiliki spesifikasi penyimpanan yang khusus. temperatur suhunya (harus) minus 90 sampai minus 60 derajat Celsius," jelas Kepala BPOM, Penny Lukito, dalam konferensi pers virtualnya Kamis (15/7) lalu. "Tentu ini perlu dikawal dalam proses pendistribusiannya."

Indonesia sendiri saat ini sudah menggunakan vaksin Sinovac dan Sinopharm dari Tiongkok, serta AstraZeneca dari Inggris. Lalu ada pula vaksin Moderna yang sudah masuk dan ditujukan sebagai dosis booster untuk tenaga medis.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts