Sempat Tuai Kontroversi, Terawan Klaim Vaksin Nusantara Bisa Akhiri Pandemi COVID-19
Nasional
Kontroversi Vaksin Nusantara

Sebagai informasi, vaksin Nusantara besutan mantan Menkes Terawan sebelumnya sempat menuai kontroversi dan menjadi perbincangan publik. Kini ia menyebut vaksin COVID-19 gagasannya itu ampuh lawan pandemi.

WowKeren - Beberapa waktu yang lalu, vaksin COVID-19 gagasan mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto yakni vaksin Nusantara, sempat menuai kontroversi. Sebelumnya, ia menyampaikan hipotesisnya terkait penelitiannya tentang vaksin tersebut.

Terbaru, Terawan mengklaim bahwa vaksin dengan metode sel dendritik buatannya itu mampu mengakhiri pandemi COVID-19 di Indonesia. Ia optimis lantaran pengembangan vaksin dengan teknologi sel dendritik saat ini tengah menjadi perbincangan dunia.

Terawan juga menuturkan bahwa sel dendritik dipilih sebagai metode pengembangan vaksin Nusantara, sebab berkaca pada kejadian SARS di Tiongkok pada 2002 silam. Menurutnya, dunia telah menyepakati bahwa dalam mengatasi pandemi ini, sel dendritik dinilai ampuh.


"Dendritik sel vaksin imunoterapi atau vaksin Nusantara, the beginning of the end for cancer and COVID-19, artinya apa? Dunia sepakat punya hipotesis bahwa yang akan menyelesaikan hal ini termasuk COVID-19 adalah dendritik sel imunoterapi atau vaksin Nusantara," terang Terawan dalam acara "Lesson Learned and Efforts to Reinforce Health Security to Accelerate COVID-19 Handling".

Lebih lanjut, Terawan menjelaskan dari hasil uji klinik fase I oleh tim peneliti Universitas Diponegoro dan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi Semarang menunjukkan bahwa imunitas vaksin Nusantara masih awet pada bulan ketiga pasca penyuntikkan. Kemudian dari hasil uji klinik fase kedua, juga tidak menunjukkan efek samping yang serius dari penyuntikkan dosis vaksin Nusantara hingga pekan keempat.

Terawan mengaku vaksin Nusantara memberikan efek baik pada dirinya. "Kita bisa merasakan efek imun yang kita peroleh dari vaksin Nusantara, produk kita sendiri, dan rasanya enak," ungkap Terawan.

Selain itu, Terawan menyebutkan bahwa vaksin berbasis sel dendritik itu mudah dibuat dan didesain mampu menangkal segala macam mutasi virus COVID-19. Ia menerangkan bahwa hanya dibutuhkan waktu delapan hari untuk mencampurkan komponen antigen beragam varian baru itu untuk kemudian dipaparkan kembali dengan sampel darah manusia.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts