Heboh COVID-19 Varian 'Delta Plus' Sudah Masuk RI, Epidemiolog: Bukan Hal Mengagetkan
Pixabay
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Turunan varian Delta yang dijuluki Delta Plus diklaim sudah masuk di Indonesia. Namun Epidemiolog Universitas Griffith Dicky Budiman mengaku tidak kaget dengan temuan ini.

WowKeren - Ketika India masih diterjang "tsunami" COVID-19 imbas varian Delta, peneliti setempat menemukan varian baru disebut "Delta Plus". Peneliti setempat membuka dugaan bahwa varian turunan Delta itu berpotensi menyebar lebih luas di masa depan.

Dan kini varian tersebut diklaim sudah beredar juga di Indonesia. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menyatakan bahwa varian Delta Plus alias AY.1 sudah dideteksi di Indonesia.

"Sudah ada di Mamuju (Sulawesi Barat) dan Jambi," tutur Kepala LBM Eijkman, Prof Amin Soebandrio, Selasa (27/7), kepada Detik Health. Namun temuan ini rupanya ditanggapi "biasa saja" oleh Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman.

Dicky mengaku tidak terlalu kaget dengan temuan varian Delta Plus tersebut. Sebab dengan lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia saat ini, penemuan varian baru termasuk Delta Plus hanya tinggal menunggu waktu.


"Ini bukan hal yang mengagetkan. Kehadiran varian ini fenomena yang alamiah. Artinya, jangan kaget ketika Delta, Delta Plus, atau Lambda variant di Indonesia ditemukan," tegas Dicky kepada kumparanSAINS, dikutip pada Rabu (28/7).

Malah Dicky menduga varian tersebut sudah ada sejak lama di Indonesia. Namun keterbatasan pelacakan dan investigasi epidemiologi di Indonesia membuat varian itu tak terdeteksi, dan kini sudah berkembang mendominasi beberapa wilayah.

"Satu hal yang perlu dipahami bahwa di tengah keterbatasan genomik kita, di tengah keterbatasan studi laboratorium kita, di tengah keterbatasan investigasi epidemiologi kita, kemudian kita menemukan Delta Plus," terang Dicky. "Iu tandanya sebetulnya besar kemungkinan varian predominant strain di lokasi ditemukan."

"Ketika dia menjadi predominant strain, karena keterbatasan tadi, dia akan mudah dideteksi. Artinya, dia sudah lama ada di komunitas. Karena, perlu waktu sebelum dia predominant," sambungnya.

Indonesia sampai saat ini memang masih berjuang mengendalikan wabah COVID-19. Bahkan pada Rabu (28/7) hari ini saja ada tambahan 47.791 kasus positif COVID-19, dengan kasus sembuh harian sebanyak 43.856, kasus meninggal 1.824, dan tambahan kasus aktif 2.111.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts