Petugas Medis Thailand Desak Pemerintah Bentuk 'War Room' Kendalikan Pandemi
pixabay.com/Ilustrasi/Gerd Altmann
Dunia

Petugas medis mengibaratkan jumlah pasien yang sekarat layaknya daun jatuh. Mereka ada di mana-mana tidak ada yang merawat karena semua orang juga takut tertular COVID-19.

WowKeren - Seorang petugas kesehatan di rumah sakit lapangan Universitas Thammasat di Thailand tengah telah mendesak PM Thailand untuk mendirikan war room atau "ruang perang" untuk pertemuan harian COVID-19. Dalam sebuah posting Facebook, petugas medis yang tidak disebutkan namanya itu memohon kepada PM untuk mengadakan pertemuan harian dengan para menterinya.

Adapun langkah ini diperlukan untuk tetap mengetahui perkembangan dan menangani masalah dengan segera. Menurut laporan Thai PBS World, petugas kesehatan terus bertanya apakah ada pejabat pemerintah yang pernah bertemu dengan staf medis garis depan yang bekerja tanpa lelah di bangsal darurat.

Ia menanyakan apakah pejabat pemerintah pernah bertanya kepada mereka apa yang mereka butuhkan dan membantu mereka memecahkan tantangan yang mereka hadapi. Petugas medis tersebut mengibaratkan jumlah pasien yang sekarat layaknya daun jatuh. Mereka ada di mana-mana. Mereka tidak ada yang merawat mengingat semua orang juga takut akan tertular COVID-19.


"Orang-orang sekarat seperti daun jatuh, di jalan, di rumah atau di mana saja, tanpa ada yang merawatnya," kata nakes tersebut. "Semua orang takut terinfeksi. Sistem hotline tidak menawarkan bantuan apa pun kepada pasien karena semua rumah sakit sudah terisi penuh."

Tak hanya kamar rumah sakit yang penuh, nakes itu juga menggambarkan banyak tandu dan tangki oksigen ada di sepanjang trotoar. Lebih jauh, ia menyebut kondisi ini sebagai zona perang.

"Tandu dan tangki oksigen tersebar di sepanjang trotoar atau di tempat parkir mobil," tegasnya lagi. "Jika ini bukan zona perang, apa itu? Kami telah menyatakan situasi darurat selama hampir 2 tahun sekarang dan situasi hari ini paling mendesak."

Menurut petugas kesehatan, begitu infeksi baru setiap hari mencapai 20.000, petugas medis akan menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya sementara masih menerima sedikit dukungan. "Jika Anda tidak bisa datang untuk menawarkan dukungan moral kepada kami, doakan saja kami kuat," imbuhnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts