Cerita Guru SMP Gunungkidul yang Pimpin Final Tunggal Putri Olimpiade Tokyo 2020
Nasional
Olimpiade Tokyo

Guru berusia 54 tahun bernama Wahyana tersebut menjadi pengadil pertandingan antara wakil Tiongkok, Chen Yufei, dengan wakil Taiwan, Tai Tzu Ying, pada Minggu (1/8) lalu.

WowKeren - Selain sederet atlet, Indonesia juga mengirimkan tiga orang wasit bulu tangkis dalam Olimpiade Tokyo 2020. Salah satunya adalah Wahyana yang memimpin partai puncak pertandingan tunggal putri pada Minggu (1/8) lalu.

Diketahui, Wahyana adalah seorang guru di SMP Negeri 4 Patuk Gunungkidul, Yogyakarta. Pria berusia 54 tahun tersebut menjadi pengadil pertandingan antara wakil Tiongkok, Chen Yufei, dengan wakil Taiwan, Tai Tzu Ying.

"Kalau menurut saya di event-event besar seperti Asian Games, Olimpiade, ini memang kenangan luar biasa," ungkap Wahyana pada Selasa (3/8). "Hampir semua wasit itu mendambakan bisa bertugas di Olimpiade karena ini merupakan event tertinggi di dunia dan tidak semua wasit bisa terpilih untuk tugas di Olimpiade."

Untuk bisa memimpin partai di Olimpiade tentu bukan perkara mudah. Wahyana menjelaskan bahwa seorang wasit harus memiliki lisensi dari Badminton World Federation (BWF) sebagai syarat menjadi pengadil kompetisi kelas atas.

Ia memulai kariernya sebagai wasit bulu tangkis pada tahun 1998. Setelah berpartisipasi di berbagai kompetisi level kabupaten, kariernya sebagai wasit pun berkembang.


"Saya menjadi wasit internasional terhitung mulai 2006. Jadi bisa dikatakan saya merupakan salah satu wasit senior," ungkapnya.

Sebelum bertugas di Olimpiade, Wahyana telah berpengalaman menjadi pengadil di PON, SEA Games, Asian Games, Thomas dan Uber Cup. Total ada sekitar 77 caps internasional yang dikantonginya.

"Hampir setiap saya tugas, 99 persen saya sampai final. Maksudnya gini, saya caps internasionalnya sudah 77 atau 78 turnamen ya baik di seluruh dunia. Dari 77-78 itu 99 persen saya tugasnya sampai final," paparnya.

Sementara itu, memimpin pertandingan atlet antar-negara dinilainya menjadi pengalaman yang menarik karena tidak semua pemain dapat memahami bahasa Inggris. Untuk mengatasi masalah bahasa tersebut, Wahyana kerap menggunakan gestur bahasa tubuh.

"Memang tidak semua pemain bisa Bahasa Inggris tetapi apabila tidak jelas kita bisa menggunakan gesture. Jadi gerakan tubuh, memakai tangan, memberikan sinyal yang dimau seperti ini. Kalau masalah kendala peraturan kan kami sudah dibekali dan menguasai peraturan jarang ada kendala itu," pungkasnya.

Di sisi lain, wasit bulu tangkis bernama Komaruliah dan Muhammad Hatta juga menjadi wakil Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Namun keduanya tidak memimpin pertandingan final seperti Wahyana.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts