Kemenkes Pastikan Ibu Positif COVID-19 Tetap Bisa Beri ASI Untuk Bayi
Pixabay
Nasional

Menurut Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes, Dr Dhian Proboyekti Dipo, masih belum ada bukti jika ASI dapat menularkan virus dari ibu kepada anak. Sehingga pemberian ASI tetap bisa dilakukan.

WowKeren - Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa ibu menyusui yang dinyatakan positif terpapar COVID-19 tetap bisa memberikan ASI kepada bayinya. Menurut Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes, Dr Dhian Proboyekti Dipo, masih belum ada bukti jika ASI dapat menularkan virus dari ibu kepada anak.

"Dalam situasi seperti pandemi COVID-19 sekarang ini, rekomendasi menyebutkan ibu dengan COVID-19 dapat terus menyusui dan memberikan ASI kepada bayinya," tutur Dhian di Jakarta. "Studi yang dilakukan di Wuhan, China pada tahun 2019, tidak ditemukan SARS-CoV-2 dalam ASI ibu yang telah terkonfirmasi COVID-19. Artinya pemberian ASI tetap harus dilaksanakan."

Hal senada juga disampaikan oleh Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Wiyarni Pambudi. Wiyarni mengungkapkan bahwa penelitian juga telah menunjukkan bahwa ASI pada ibu positif COVID-19 memiliki kandungan antibodi yang tinggi.

"Pada ibu yang terkonfirmasi positif ternyata di dalam ASI nya, mengalir antibodi Imunoglobulin A dan G, mengalir pula Lactalbumin, Lactoferin dll yang secara spesifik merupakan benteng perlawanan terhadap SARS-CoV-2," papar Wiyarni dikutip dari laman resmi Kemenkes. "Inilah yang disebut imunisasi pasif yang alami, yang diberikan ibu penyintas COVID-19 kepada bayinya."


Lebih lanjut, Wiyarni juga mengungkapkan bahwa antivitas antibodi sIgA spesifik SARS-CoV-2 dan IgG spesifik dalam air susu penyintas COVID-19 mampu bertahan selama 7-10 bulan pasca infeksi. Ibu menyusui yang telah divaksinasi COVID-19 juga disebut memiliki ASI dengan tingkat antibodi yang meningkat.

"Pada ibu yang telah vaksinasi COVID-19 ditemukan kadar antibodi slgA spesifik SARS-CoV-2 dalam ASI meningkat pesat dalam waktu 14 hari pasca vaksinasi dosis pertama, semakin kuat setelah minggu ke-4 dan terukur lebih tinggi pada minggu ke-5 dan ke-6," jelas Wiyarni.

Oleh sebab itu, Wiyarni berharap agar ibu menyusui tetap memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya, terutama di masa pandemi COVID-19. Pasalnya, ASI bukan hanya sumber makanan utama bayi melainkan juga penting untuk melindungi mereka dari paparan COVID-19.

"Menyusui tidak boleh terputus apapun status ibu. Apabila kondisisnya tidak memungkinkan, ibu yang positif dan dirawat harus didukung agar bisa memerah ASI. Jika ibu masih kuat, lanjutkan dengan tetap mengikuti protokol pencegahan COVID-19," pungkasnya.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait