Serba-Serbi Sertifikat Vaksin: Salah Data Bisa Cek di Sini, Diimbau Tak Dicetak Demi Hindari Pinjol
Instagram/sunrisemall
Nasional

Kemenkes mengungkap solusi bila ada salah data di sertifikat vaksin. Di sisi lain, pakar mengimbau sertifikat vaksin tak dicetak fisik demi menghindari penyalahgunaan seperti mengajukan pinjaman online.

WowKeren - Kini berbagai aktivitas banyak yang memerlukan sertifikat vaksin. Karena itulah sangat penting bagi setiap masyarakat untuk segera mengikuti vaksinasi COVID-19 dan tentu saja mengunduh sertifikat vaksinasinya.

Lantas bagaimana jika sertifikat tidak kunjung terbit meski sudah divaksin? Atau bagaimana apabila ada data yang salah di seritifkat atau kartu vaksinnya?

Ternyata Kementerian Kesehatan juga memahami kendala ini. Sehingga lewat Instagram-nya, Kemenkes mengungkap solusi untuk masalah tersebut, seperti apa?

"Tenang, kamu bisa menyampaikan kendala yang dihadapi melalui email [email protected]," tutur Kemenkes, dikutip pada Rabu (11/8). Namun terdapat format khusus untuk pengiriman emailnya, yakni seperti berikut.

"Format Email: Nama Lengkap, NIK KTP, Tempat Tanggal Lahir, No. Handphone," tulis Kemenkes di infografisnya. "Lampirkan foto dan kartu vaksinasinya, ya!"


"Supaya bisa langsung diproses, user bisa langsung menyampaikan biodata lengkap, foto selfie dengan KTP, dan menjelaskan keluhannya," sambung Kemenkes. Solusi yang sangat mudah bukan?

Di sisi lain, kebutuhan sertifikat dan kartu vaksin untuk beraktivitas di tengah pembatasan akibat COVID-19 membuat beberapa pihak memilih mencetaknya secara fisik. Meski belakangan menjadi tren, Pakar Keamanan Siber Alfons Tanujaya malah menentang praktik ini karena khawatir bisa menyebabkan kebocoran data pribadi.

"Karena tidak semua orang memiliki printer, maka sertifikat vaksin dikirimkan ke jasa pencetak. Jasa pencetak secara otomatis mendapatkan kumpulan data kependudukan NIK, nama lengkap, dan tanggal lahir," tutur Alfons kepada CNN Indonesia, Rabu (11/8).

Situasi ini sangat berbahaya karena bisa disalahgunakan oknum tak bertanggung jawab. "Seperti untuk membuat KTP aspal yang nantinya digunakan untuk banyak aktivitas jahat seperti membuka rekening bank penampungan hasil kejahatan atau melakukan pinjaman online," jelas Alfons.

Malah menurut Alfons lebih aman menunjukkan sertifikat langsung dari ponsel dan aplikasi PeduliLindungi. "Metode pengecekan Sertifikat Vaksin proaktif menggunakan aplikasi gawai untuk pemindai QR Code di mal atau tempat makan direkomendasikan untuk digunakan dan cukup aman dari sisi keamanan karena dapat mencegah kebocoran data," pungkasnya.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait