Angka Kematian COVID-19 Masih Tinggi, Epidemiolog Sebut Akibat Gagal Respons Di Hulu
pixabay/ilustrasi
Nasional

Kasus COVID-19 di Indonesia hingga saat ini masih terbilang tinggi, begitu juga dengan angka kematiannya. Maka dari itu, perlu penanganan dan kebijakan yang lebih ketat dari pemerintah.

WowKeren - Pandemi COVID-19 hingga saat ini masih belum juga berakhir di Indonesia. Bahkan angka kematian COVID-19 dinilai masih tinggi. Maka dari itu pemerintah diminta untuk bisa menekan angka kematian, di samping menurunkan kasus aktif COVID-19.

Dicky Budiman selaku Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia menilai bahwa tingginya angka kematian COVID-19 disebabkan oleh kegagalan dan keterlambatan dari hulu dalam penanganan pandemi. Berdasarkan data Satgas, kasus kematian COVID-19 selama satu bulan lebih konsisten di atas seribu kasus per hari sejak 16 Juli 2021.

Bahkan pada 27 Juli dan 10 Agustus, kata Dicky, angka kematian mencapai 2 ribu kasus. "Sekali lagi, angka kematian adalah salah satu indikator penting pandemi yang posisinya itu ada di indikator telat, artinya, kalau itu terjadi, ada keterlambatan respons dan ada kegagalan respons di hulu," terang Dicky kepada CNNIndonesia.com, Jumat (20/8).

Lebih lanjut, Dicky menjelaskan bahwa dengan adanya kegagalan respons di hulu itu bisa merambat hingga hilir atau pihak pelaksana di setiap wilayah. Menurutnya, tingginya angka kematian COVID-19 saat ini mempresentasikan kegagalan rangkaian yang dilakukan sejak satu bulan sebelumnya.


Adapun rangkaian yang dimaksud Dicky adalah 3T (testing, tracing, treatment) di lapangan. Jika kasus terlambat dideteksi, maka akan menyebabkan atau berimbas pada penanganan. Hal ini lah yang akhirnya menjadi penyebab tingginya angka kematian.

Selain terlambatnya 3T, menurut Dicky, jumlah tes juga masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari positivity rate atau rasio kasus masyarakat terpapar COVID-19. Kemudian, ada juga warga yang terpapar, namun tidak terdeteksi karena tidak melakukan pemeriksaan.

Dicky mengungkapkan positivity rate per Jumat (20/8), Indonesia masih berada pada 17,57 persen. Angka ini melewati ambang batas positivity rate yang telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 5 persen.

Meski demikian, positivity rate telah mengalami penurunan dibandingkan dengan data per Kamis (19/8) di angka 19,5 persen. Kemudian, Dicky mengatakan akibat keterlambatan tes dan pelacakan, menyebabkan data yang dicatat oleh Satgas tidak memperlihatkan jumlah sebenarnya.

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait