Waspada! Pesisir Utara Jawa Darurat Tenggelam, 5 Daerah Ini Paling Rawan
Wikimedia Commons/Devanocturno
Nasional

Peneliti BRIN mengemukakan ancaman tenggelamnya daerah pesisir utara Pulau Jawa akibat perubahan iklim. Namun yang paling disorot adalah kelima daerah seperti berikut.

WowKeren - Bukan lagi sebatas prediksi, pesisir utara Pulau Jawa saat ini memang benar-benar dalam posisi darurat tenggelam. Hal ini sebagaimana laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) 2021, di mana disebutkan kawasan Asia Tenggara yang akan mengalami dampak cukup parah.

Kerentanan tertinggi yang dialami adalah kenaikan permukaan air laut yang ditemukan lebih cepat terjadi dibanding daerah lain. Situasi pun diperburuk dengan pergeseran tektonik serta efek surutnya air tanah.

"Hilangnya wilayah pesisir dan kemunduran garis pantai di Asia Tenggara telah diamati dari tahun 1984-2015. Proyeksi menunjukkan bahwa permukaan laut regional rata-rata terus meningkat. Ini membuat kejadian banjir lebih sering di daerah pantai," jelas Pakar Iklim dan Meteorologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Edvin Aldrian, Kamis (16/9).

"Ditambah lagi Tingkat Total Ekstrem Air (ETWL) lebih tinggi di daerah dataran rendah dan erosi pantai mulai terjadi di sepanjang pantai berpasir," imbuh Edvin. Lalu perubahan iklim seperti kenaikan permukaan air laut hingga mencairnya es kutub akibat pemanasan global juga memperburuk situasi yang ada.

"Dapat disimpulkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia menyebabkan tingkat banjir yang lebih tinggi," kata Edvin, dikutip dari Harnas, Jumat (17/9). "Termasuk yang terjadi pada pesisir utara Pulau Jawa."


Peneliti Ahli Utama Bidang Teknologi Penginderaan Jauh BRIN, Rokhis Khomarudin membenarkannya sekaligus menambahkan bahwa kini daerah pesisir utara Jawa juga mulai mengalami penurunan permukaan tanah. Peneliti Ahli Utama BRIN Prof Eddy Hermawan turut menambahkan bahwa turunnya permukaan tanah di pesisir utara Jawa lebih mengkhawatirkan daripada pesisir selatan yang cenderung berbukit.

"Cirebon, Pekalongan, Semarang, dan Surabaya adalah kota-kota pesisir utara Jawa yang paling rawan terhadap penurunan tanah ekstrem hingga tahun 2050," tutur Eddy. Keempat daerah tersebut bersama DKI Jakarta merupakan yang paling disorot terkait darurat tenggelamnya pesisir utara Jawa ini.

Seperti disampaikan Rokhis, berdasarkan pemantauan citra satelit terbukti terjadi penurunan permukaan tanah antara 0,1-1,8 cm per tahun di DKI Jakarta, sedangkan di Cirebon sampai 0,3-4 cm. Lalu di Pekalongan antara 2,1-11 cm per tahun, Semarang antara 0,9-6 cm per tahun, sedangkan Surabaya antara 0,3-4,3 cm per tahun.

"Kondisi morfologi daerah pesisir yang relatif datar membuat hampir seluruh aktivitas pembangunan infrastruktur jalan dan perekonomian dipusatkan di utara Jawa. Ini membuat beban tanah karena bangunan dan penyedotan atas penggunaan air tanah menjadi lebih intensif dibandingkan dengan wilayah lain," sambung Eddy.

Karena itulah, BRIN juga menuturkan sejumlah upaya mitigasi yang bisa dilakukan. "Dengan kebijakan penggunaan air tanah, penanaman mangrove, dan pencegahan perusakan lingkungan (yang) harus segera dilakukan," pungkas Eddy.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts