Terungkap Alasan KKB Tega Serang Faskes dan Sekolah di Papua, Nakes Sampai Ada yang Meninggal
Twitter/VoiceWestpapua1
Nasional

TPNPB OPM menjelaskan alasan pihaknya tega menyerang hingga merusak fasilitas publik di Papua, termasuk tempat layanan kesehatan dan pendidikan, pada 13-14 September 2021 kemarin.

WowKeren - Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua diketahui melakukan penyerangan di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang pada 13-14 September 2021 lalu. Tercatat seorang tenaga kesehatan meninggal dunia hingga memicu unjuk rasa rekan sejawat agar pemerintah lebih berkomitmen melindungi mereka.

KKB Papua, yang mengaku sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM), menyatakan bertanggung jawab atas penyerangan tersebut. Bahkan bukan cuma itu, mereka juga mengancam akan menghancurkan semua fasilitas publik yang sudah dibangun pemerintah Indonesia.

Namun sebenarnya, apa alasan TPNPB OPM tega menghancurkan fasilitas-fasilitas kesehatan dan pendidikan di Papua? Rupanya TPNPB OPM menilai tindakan mereka sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah, termasuk faskes yang disebutkan menjadi tempat agen TNI bekerja.

"Semua fasilitas itu biasa dipakai boleh militer," ungkap Juru Bicara TPNPB OPM, Sebby Sambom, dalam keterangannya dikutip dari Pojoksatu.id, Senin (20/9). "Dan 2 orang (nakes) yang kerja di wilayah itu pun agen TNI-Polri."


Sebby menyebut, TPNPB OPM menuntut hak politik untuk penentuan nasib sendiri, yakni ingin merdeka dari Indonesia. Karena itulah mereka tidak segan menghancurkan semua fasilitas publik yang dibangun pemerintah di Bumi Cenderawasih.

"Semua fasilitas itu program pemerintah kolonial Indonesia maka TPNPB OPM akan hancurkan semuanya di seluruh tanah Papua. Dan kami akan bangun kembali setelah Papua Merdeka penuh dari tangan pemerintah kolonial Indonesia," tegas Sebby.

Sebby juga menegaskan bahwa pihaknya sudah mengingatkan agar warga pendatang meninggalkan lokasi perang. Namun mereka disebut mengabaikannya sehingga kini OPM tak ragu akan menyerang siapa saja termasuk warga sipil. Bila ada warga pendatang atau sipil yang tewas, menurut Sebby adalah tanggung jawab pemerintah Indonesia.

"Sebelumnya kami sudah umumkan bahwa orang imigran Indonesia harus tinggalkan wilayah perang, termasuk Pegunungan Bintang. Oleh karena itu, jikalau orang imigran Indonesia jadi korban maka itu nyawa mereka tanggung jawab pemerintah kolonial Indonesia," pungkas Sebby.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts