Alasan PPKM di Jabodetabek Dinilai Sudah Layak Turun ke Level 2
Instagram/dishubdkijakarta
Nasional
PPKM Darurat

Hingga kini, wilayah aglomerasi Jabodetabek masih berstatus sebagai wilayah PPKM Level 3. Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, lantas menilai Jabodetabek sudah layak turun menjadi PPKM Level 2.

WowKeren - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level untuk wilayah Jawa-Bali akan berakhir pada Senin (20/9) hari ini. Masyarakat tengah menanti status PPKM yang baru.

Hingga kini, wilayah aglomerasi Jabodetabek masih berstatus sebagai wilayah PPKM Level 3. Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, lantas menilai Jabodetabek sudah layak turun menjadi PPKM Level 2.

Menurut Dicky, community transmission COVID-19 di Jabodetabek sudah membaik, sehingga level PPKM di daerah tersebut sudah bisa diturunkan. Adapun Dicky menjelaskan hal ini kala menjawab pertanyaan wartawan soal apakah status PPKM Jabodetabek layak diturunkan menjadi Level 2.

"Sekarang sudah layak dan ini ditunjang dengan penurunan level community transmission ke level 1. Jadi secara indikator, epidemiologi, sudah mendukung. Dan saya kira kesiapan di masyarakat juga sudah baik," papar Dicky, Minggu (19/9). "(Community transmission level 1) artinya, kurang dari 20 kasus infeksi per 10.000 penduduk. Artinya, masih ada penularan di komunitas yang sebetulnya belum terdeteksi."


Selain penurunan community transmision, tingkat vaksinasi di Jabodetabek, khususnya Jakarta, juga mendukung penurunan level PPKM. Meski demikian, Dicky menilai penurunan level dengan patokan vaksinasi untuk wilayah lain akan sulit.

"Kalau ini juga diperhitungkan dengan vaksinasi. Semua daerah akan berubah. Memperhatikan Jakarta, Jabodetabek lebih mudah ke level 2," paparnya. "Tapi, daerah lain akan memerlukan waktu karena dosis dua yang jadi rujukan."

Di sisi lain, kasus COVID-19 harian Indonesia kini telah menunjukkan penurunan. Pada Minggu kemarin, Indonesia mencatat 2.234 kasus COVID-19 baru. Ini merupakan angka kasus COVID-19 harian terendah Indonesia sejak awal tahun 2021.

Kabar baik lainnya, Kementerian Kesehatan mencatat positivity rate harian COVID-19 per Minggu kemarin mencapai 1,67 persen. Angka ini telah lebih baik dibanding standar aman yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni 5 persen. Sementara itu, Indonesia sempat mencatat rekor positivity rate harian tertinggi pada 22 Juni 2021 lalu, yakni mencapai 51,62 persen.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts