IDAI Ungkap Penyebab Banyak Anak Meninggal Akibat COVID-19, Imbau Percepat Vaksinasi
AP
Nasional
COVID-19 di Indonesia

IDAI menyebut jumlah anak-anak Indonesia yang meninggal akibat COVID-19 lebih banyak daripada di AS dan Eropa. IDAI pun mengungkap alasan di balik krisis yang terjadi.

WowKeren - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membuka fakta mengejutkan soal wabah COVID-19 di Tanah Air. Sebab wabah tersebut menyebabkan hampir 40 ribu anak meninggal dunia.

"Hasil penelitian IDAI tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Pediatrics yang terbit 23 September 2021 lalu," kata Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Prof DR Dr Aman B Pulungan, lewat keterangan tertulisnya, Minggu (26/9).

Angka tertinggi adalah kematian pada usia 10-18 tahun, diikuti oleh usia 1-5 tahun, 29 hari sampai kurang dari 12 bulan, 0-28 hari, hingga 6 sampai kurang dari 10 tahun. Dan angka ini juga menjadikan tingkat kematian COVID-19 anak-anak di Indonesia sebagai salah satu yang tertinggi dibanding Eropa hingga Amerika Serikat.

Tentu menjadi pertanyaan besar, mengapa anak-anak yang aktivitasnya masih dibatasi malah menyumbangkan angka kematian COVID-19 yang begitu tinggi. "Kemungkinan karena kapasitas pemeriksaan (testing) yang rendah sehingga banyak kasus yang tidak terdeteksi," kata Ketua Bidang Ilmiah PP IDAI, DR Dr Antonius H Pudjiadi, dikutip dari Kantor Berita Politik RMOL, Senin (27/9).


Selain itu, penyebab tingginya kematian COVID-19 anak-anak Indonesia adalah karena faktor gagal napas. "Penyebab kematian anak akibat COVID terbanyak dikarenakan faktor gagal napas, sepsis atau syok sepsis, serta penyakit bawaan atau komorbid," tutur Sekretaris Umum PP IDAI, Dr Hikari Ambara Sjakti.

Beberapa komorbid alias penyakit bawaan yang memperburuk kondisi anak-anak penderita COVID-19 seperti malnutrisi dan keganasan. Lalu faktor penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, tuberkulosis (TBC), penyakit ginjal kronik, cerebral palsy, dan autoimun. "Sementara 62 anak meninggal tanpa komorbid," lanjut Hikari.

Dan kini anak-anak Indonesia juga mulai dilonggarkan pembatasan aktivitasnya, seperti dengan izin masuk mal hingga sekolah tatap muka. Sedangkan sekolah tatap muka sendiri rupanya malah menjadi klaster baru COVID-19 di Indonesia.

Karena itulah, Ketua IDAI mendorong percepatan vaksinasi COVID-19 untuk anak-anak usia di bawah 12 tahun. "Kalau kita mau mencapai herd immunity segera, anak harus segera kita mulai. Beberapa negara kan sudah mulai. EUA sudah, Amerika sudah," bebernya.

"IDAI meminta anak di bawah 12 tahun (segera imunisasi COVID-19," imbuhnya menegaskan. "Kita tidak setuju sebenarnya anak di bawah 12 tahun dibawa ke mal dan lain-lain itu, mereka kan belum imunisasi."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts