Tukul Arwana masih menjalani pemulihan pasca operasi akibat pendarahan otak. Disebutkan juga bahwa Tukul menderita hipertensi yang sebelumnya tak diketahui.
- Trias Rohmadoni Alandari
- Selasa, 28 September 2021 - 13:21 WIB
WowKeren - Hingga kini Tukul Arwana masih dirawat di rumah sakit usai menjalani operasi akibat pendarahan otak. Saat dilarikan ke rumah sakit, Tukul ternyata mengalami hipertensi akut. Pembuluh darah komedian 57 tahun itu pecah hingga mengalami pendarahan otak.
Ketika tiba di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) pada Rabu (22/9), Tukul pun langsung mendapat pertolongan medis. Tim dokter memutuskan untuk mengoperasi Tukul.
Setelah menjalani operasi, kondisi Tukul disebut memang mulai membaik. Namun tekanan darahnya mengalami naik turun sehingga mendapat pemantauan ketat dari dokter.
"Sampai saat ini kondisi pemantauan di ruang semi intensif yaitu di ruang stroker unit, jadi memang tekanan darah terlihat masih naik turun," ujar dr. Sardiana salam, Sp.S,M.kes, saat konferensi pers secara virtual pada Senin (27/9), seperti dilansir dari DetikHOT. "Jadi kadang-kadang stabil kadang-kadang tiba-tiba naik."
Dokter pun memberikan obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi Tukul. Walau begitu, Tukul disebut sudah mulai memberi respon ketika diajak berkomunikasi.
"Karena kondisinya masih pascaakut, dan memang saat ini untuk tensinya itu ada target yang kita targetkan dan itu sudah diberikan obat anti hipertensi," ungkap dr. Sardiana salam, Sp.S,M.kes.
"Jadi factor risk itu yang menyebabkan terjadinya stroke perdarahan ini adalah hipertensi," lanjut dr. Sardiana salam, Sp.S,M.kes. "Jadi mungkin karena faktor yang disampaikan Mas Kimon (Manajer Tukul Arwana) tidak pernah medical check up jadinya tidak terdeteksi."
Disebutkan juga bahwa hipertensi yang diderita Tukul sejak awal tidak diketahui. Hingga akhirnya kini hipertensi Tukul menjadi akut karena tidak pernah diperiksa.
"Tapi pada saat vaksinasi kan dilakukan screening juga dan di situ sudah didapatkan memang tensinya sudah 160/100 tapi memang secara screening vaksinasi secara batasannya adalah 180/100. Kemungkinan ini hipertensinya yang memang tidak diketahui jadinya tidak terkontrol," tutur dr. Sardiana salam, Sp.S,M.kes.
"Jadi mungkin kami menjelaskan riwayat yang tidak terdeteksi inilah yang ternyata hipertensi yang akhirnya menyebabkan pecah pembuluh darah yang menyebabkan stroke pendarahan yang luas," pungkas dr. Sardiana salam, Sp.S,M.kes.
(wk/tria)