Sebagai informasi, pihak otoritas Australia mengambil tindakan tegas tersebut usai operator tur lokal memberi peringatan tentang adanya lusinan kapal asing di wilayah tersebut.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 09 November 2021 - 11:05 WIB
WowKeren - Pihak otoritas Australia membakar tiga kapal ikan ilegal asal Indonesia di perairan utara Australia. Mereka juga menyita ratusan kilogram alat tangkap ikan dan makanan laut.
Menanggapi hal ini, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti turut angkat bicara. Susi memberikan apresiasi kepada aparat Australia yang telah menjaga kedaulatan wilayah perairannya.
"Respect dan apresiasi untk aparat Australia yang telah menjaga kedaulatan wilayah & resourcesnya," cuit Susi pada Senin (8/11). "Seharusnya kita terus melakukan hal yang sama kepada kapal pencuri ikan di lautan kita sehingga nelayan-nelayan domestik kita bisa terus mendapatkan hasil yang banyak."
Lebih lanjut, Susi juga menyatakan bahwa kebijakan penenggelaman kapal pencuri ikan sebaiknya kembali diterapkan di Indonesia. Diketahui, Susi memang memiliki kebijakan menenggelamkan kapal asing pencuri ikan selama masih menjabat sebagai Menteri KP.
"Sudah saat nya Laksanakan kembali kebijakan penenggelaman kapal pencuri ikan di wilayah Laut NKRI," tulis Susi sembari mengutip berita tentang Australia yang menghancurkan kapal ilegal Indonesia.
Di sisi lain, pihak otoritas Australia mengambil tindakan tegas tersebut usai operator tur lokal memberi peringatan tentang adanya lusinan kapal asing di wilayah tersebut. Mereka mengaku takut akan terjadinya pembajakan selama perjalanan.
Australian Border Force (ABF) pun merilis foto-foto kapal ilegal yang dibakar di laut setelah operasi tiga hari di dekat Rowley Shoals Marine Park di lepas pantai utara Australia Barat. Laksamana Muda Mark Hill, yang mengepalai Komando Perbatasan Maritim, mengatakan tiga kapal dihancurkan dan 13 lainnya dikawal keluar dari perairan Australia.
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI pun telah merespons pembakaran tiga kapal ikan Indonesia tersebut. KKP RI memutuskan untuk menunda patroli bersama hingga mendapat penjelasan lebih lanjut dari ABF. Penjelasan dari ABF dinilai penting untuk menghindari kesimpangsiuran informasi terkait identitas tiga kapal yang dibakar atau 13 kapal yang diusir dari perairan Australia.
"Ini respon atas perkembangan yang terjadi, patroli bersama Jawline-Arafura akan kami tunda," tutur Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Laksamana Muda TNI Adin Nurawaluddin.
Menurut Adin, Jawline-Arafura adalah patroli bersama ABF dengan Ditjen PSDKP KKP yang dilaksanakan di perbatasan Indonesia-Australia. "Harusnya pekan ini dilaksanakan, namun dengan perkembangan yang ada saat ini, kami menunggu penjelasan resmi dari pihak ABF," pungkasnya.
(wk/Bert)