Herry Wirawan rupanya telah melakukan aksi bejatnya sejak tahun 2016 silam, namun baru terbongkar pada bulan Mei 2021. Pengacara dari LBH Serikat Petani Pasundan, Yudi Kurnia, lantas membagikan kisah para korban Herry.
- Sabtu, 11 Desember 2021 - 21:03 WIB
WowKeren - Baru-baru ini, masyarakat Indonesia dihebohkan oleh kasus pemerkosaan yang dilakukan seorang oknum guru di sebuah Pondok Pesantren di Bandung, Jawa Barat. Pelaku bernama Herry Wirawan tersebut dilaporkan telah memperkosa belasan santri hingga ada yang hamil dan bahkan melahirkan.
Herry rupanya telah melakukan aksi bejatnya sejak tahun 2016 silam, namun baru terbongkar pada bulan Mei 2021. Pengacara dari LBH Serikat Petani Pasundan, Yudi Kurnia, lantas membagikan kisah para korban Herry.
Kepada detikcom, Yudi mengungkapkan bahwa kasus pemerkosaan ini terungkap pada Lebaran lalu. Kala itu, orangtua salah satu korban heran dengan perubahan badan dan sikap anaknya yang pulang kampung ke Garut. Orangtua korban kemudian mendapat kabar dari kerabat di Tasikmalaya yang anaknya turut bersekolah di pesantren milik Herry.
"Saudaranya di Tasik minta orangtua korban mengecek kondisi anaknya, hamil atau tidak," ungkap Yudi.
Setelah korban berhasil dibujuk untuk mau bercerita, baru terungkap bahwa ia diperkosa oleh Herry. Kala dibawa ke bidan, korban dinyatakan sudah hamil lima bulan.
"Korban ini bilang bukan hanya dia yang menjadi korban," terangnya. "Banyak teman lainnya jadi korban."
Orangtua korban lantas menceritakan temuan ini kepada orangtua santri lainnya yang masih satu kampung. Sayangnya, cerita tersebut tidak dipercaya. Keluarga korban bahkan sempat dimusuhi karena dianggap menyebar fitnah.
Beberapa hari kemudian, korban lain mulai berbicara tentang pemerkosaan yang mereka alami. Salah satu korban telah melahirkan di pondok pesantren dan anaknya telah berusia dua tahun. Sedangkan korban lain diperkosa namun tidak hamil.
Pengakuan ini membuat murka warga sekampung, mereka bahkan sempat berencana menyerang pondok pesantren di Bandung tersebut. Namun salah satu warga kemudian menyarankan para korban untuk mendatangi LBH Serikat Petani Pasundan untuk berkonsultasi.
"Jadi pertama yang kami tangani adalah tiga orang. Akhirnya 18 Mei kami lapor ke Polda Jabar," paparnya. "Namun yang lapor disuruh satu orang, korban lainnya pendukung. Yang melaporkan itu atas nama korban yang tidak hamil."
Berdasarkan hasil pengembangan penyidik Polda Jabar, ada 12 santri yang menjadi korban Herry. Yudi mengaku pihaknya menangani 11 orang korban, delapan orang di antaranya hamil akibat aksi bejat Herry. Salah satu korban bahkan dilaporkan sudah hamil dua kali.
"Kehamilan pertama melahirkan di pesantren, yang kedua di rumahnya saat kasus ini sudah terbongkar. Jadi saat ini ada sembilan bayi yang telah lahir," katanya.
Adapun korban yang melahirkan di pondok pesantren melakukan proses persalinan di bidan daerah Cibiru Hilir. Setelah melahirkan, korban dibawah ke basecamp di daerah Cileunyi dimana mereka harus mengurus anak-anaknya sendiri dan tidak lagi belajar di pondok pesantren. Menurut Yudi, basecamp tersebut merupakan tempat penampungan anak yatim piatu yang terlantar.
"Bahkan ada salah satu bayi yang dirawat oleh orangtua Herry, namun orangtuanya tidak tahu soal ulah anaknya itu," tambahnya.
Yudi lantas mengungkapkan bahwa semua korban selama ini merasa tertekan dengan aksi bejat Herry. Hanya saja, Herry seakan-akan telah mendoktrin para korban yang masih di bawah umur tersebut untuk menurut.
Menurut Yudi, para korban mengaku sudah berusaha melawan setiap kali Herry hendak melakukan aksi bejatnya. Namun Herry disebut lihai memperdaya mereka.
"Kalau menurut keterangan dari anak-anak, mereka itu menolak. Tapi, setelah ada si pelaku itu memberikan bisikan di telinga, dia jadi mau. Ada bisikan ke telinga korban setiap mau melakukan itu," pungkasnya.
(wk/Indr)