Belum lama ini, Taliban menjadi perhatian dunia kembali lantaran beberapa jam setelah mengumumkan pembukaan sekolah bagi perempuan, kemudian pihaknya memutuskan untuk membatalkannya.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 29 Maret 2022 - 14:07 WIB
WowKeren - Sebelumnya, pimpinan Taliban telah mengumumkan membuka kembali sekolah menengah bagi para perempuan di Afghanistan. Namun beberapa jam dari pengumuman tersebut, Taliban kembali menutup sekolah bagi perempuan.
Keputusan dari Taliban itu sontak memicu respons dari para perempuan di Afghanistan. Perempuan di Afghanistan sangat kecewa, bahkan tangis pun pecah. Sementara itu, Amerikat Serikat (AS) pun urung mengakui kepemimpinan Taliban secara diplomatik.
Sementara itu, pada Senin (28/3), Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi diketahui bertemu dengan pihak Taliban untuk membahas larangan sekolah bagi perempuan di Afghanistan. Adapun dalam kesempatan tersebut, Retno bertemu dengan pejabat Menlu Taliban, Amir Khan Muttaqi.
Berdasarkan informasi dari AFP, pertemuan antara Retno dengan Muttaqi itu berlangsung di Doha, Qatar. Dalam pertemuan tersebut, juga tampak Retno bersama dengan Wakil Menlu Qatar, Lolwah Al Khater.
Retno dan Al Khater disebut sebagai perwakilan asing pertama yang bertemu dengan pimpinan Taliban sejak kelompok fundamentalis itu memulangkan para perempuan pada Rabu (23/3) lalu, setelah beberapa jam mengizinkan mereka kembali ke sekolah menengah.
Melalui unggahannya di Twitter resminya, @Menlu_RI, Retno mengunggah potret dirinya dalam pertemuan tersebut. Dalam unggahan tersebut, ia juga mengatakan bahwa tengah membahas masalah pendidikan bagi semua warga di Afghanistan, khususnya perempuan.
"Bersama Asisten Menteri Luar Negeri Qatar @Lolwah_ALkhater dan HE Amir Khan Muttaqi dari Afghanistan, kami mengadakan pertemuan di Doha dan membahas masalah kemanusiaan dan pendidikan untuk semua di Afghanistan (27/03)," ujar Retno melalui Twitter, dilihat Selasa (29/3).
Dalam pertemuan tersebut, AS seharusnya juga berada di sana. Namun dikarenakan peristiwa pemulangan para perempuan yang hendak kembali ke sekolah menengah itu, membuat AS membatalkan pembicaraan yang direncanakan dengan Muttaqi di Doha tersebut. Hal ini disebut sebagai aksi protes.
Dalam kesempatan yang sama, Retno juga tampak berbincang dengan aktivis hak perempuan Afghanistan, Fatima Gailani. Dalam perbincangan tersebut diketahui membahas terkait dengan akses pendidikan bagi semua warga Afghanistan.
(wk/tiar)