Wapres Ma'ruf Amin menyoroti Indonesia yang dinilai hanya menjadi konsumen terbesar produk halal. Padahal, Ma'ruf yakin Indonesia punya potensi besar untuk jadi produsen produk-produk halal.
- Amelia Nur Fatimah
- Selasa, 29 Maret 2022 - 19:29 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo menyampaikan kritik soal Indonesia yang lebih banyak menggunakan produk impor ketimbah hasil produksi sendiri. Kini giliran Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang menyampaikan hal serupa. Ma'ruf Amin kali ini fokus pada produk-produk halal.
Ma'ruf Amin menyebut selama ini produsen terbesar produk halal di dunia justru bukan dari negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti Cina, Korea Selatan dan Brasil. Selain itu, Ma'ruf Amin juga menyentil soal Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim tapi malah hanya jadi konsumen terbesar saja.
"Selama ini kita hanya menjadi konsumen terbesar di dunia, bukan produsen. Jadi, produsennya justru ada negara-negara non muslim, Brasil, Australia, bahkan juga Cina, Korea (Selatan)," ujarnya pada pembukaan Gerakan HIPMI Syariahpreneur Indonesia, Selasa (29/3).
Ma'ruf Amin mengungkap bahwa pemerintah ingin berupaya merebut posisi itu. Pemerintah menargetkan mampu menjadi negara produsen produk halal terbesar dunia pada 2024 mendatang melihat potensinya yang besar.
Dalam mewujudkan itu, Ma'ruf Amin mengatakan ada beberapa lini ekonomi syariah yang akan dikembangkan pemerintah. Pertama, industri keuangan syariah. Untuk mengembangkan ini pemerintah telah menggabungkan 3 BUMN syariah pada tahun lalu. Ketiganya adalah PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk.
Kedua, mengembangkan lembaga keuangan sampai ke tingkat mikro. Ketiga, mengembangkan dana sosial Islam, seperti zakat dan wakaf. Menurut dia, potensi dana zakat per tahunnya mencapai Rp370 triliun. Namun, realisasiya hanya Rp70-an triliun saja.
"Ada yang ultramikro itu Bank Wakaf Mikro, ada Baitul Maal Wat Tamwil, ada koperasi syariah. Itu pun yang resmi pemerintah baru Rp10 triliun, yang Rp60 triliun itu langsung masyarakat, para pemberi zakat langsung kepada penerima zakat," paparnya.
Keempat, mendorong usaha, bisnis, dan para pengusaha syariah. Ia menuturkan pengusaha harus dikembangkan karena semua instrumen yang ada tidak akan termanfaatkan secara optimal jika tidak ada pengusaha. "Kuncinya itu pengusaha. Rohnya itu ada di pengusaha," pungkasnya.
(wk/amel)