Punya Peran Strategis, Survei BNPT Tunjukkan Perempuan Lebih Rentan Terpapar Radikalisme
Unsplash/Gading Ihsan
Nasional

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menyebut potensi radikalisme pada perempuan cenderung tinggi. BNPT pun mengimbau para perempuan untuk semakin waspada.

WowKeren - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88 terus berupaya mengatasi masalah terorisme di Indonesia. BNPT pun fokus melakukan pencegahan dan memberikan informasi yang berkaitan dengan radikalisme pada masyarakat Tanah Air.

Terbaru, BNPT mengungkap bahwa indeks potensi radikalisme di kalangan perempuan cenderung tinggi. Hal itu dilihat berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada tahun 2020. Karena itu, perempuan dinilai punya peran sentral dalam menyebarkan atau pun menangkal radikalisme.

"Merujuk pada hasil survei oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada 2020, bahwa indeks potensi radikalisme cenderung lebih tinggi di kalangan perempuan," ujar Kepala BNPT Komjen Pol Boy Ramli Amar, Kamis (31/3), di acara Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme.

Selain perempuan, Komjen Pol Boy Ramli mengungkap bahwa potensi radikalisme juga cenderung tinggi pada kaum urban dan generasi muda, baik Generasi Z maupun milenial. Serta mereka yang aktif di internet dan media sosial.


"Artinya, keempat entitas tersebut harus diwaspadai dan terus menjadi sasaran utama dalam melakukan kontraradikalisme dan peningkatan daya tanggal, karena mereka cukup rentan terhadap terpaan radikalisme," ungkap Komjen Pol Boy Ramli Amar.

Boy Ramli Amar kemudian menyebut, Dalam konteks itu, tidak bisa dipungkiri bahwa posisi perempuan menjadi sangat vital dalam keluarga. Bahkan dalam kehidupan masyarakat secara lebih luas. Ia menilai perempuan punya peran penting untuk membentengi keluarga dan lingkungannya dari berbagai bentuk penyebaran ajaran radikalisme.

"Perempuan memiliki peran strategis dalam membentengi keluarga dan masyarakat dari segala bentuk penyebaran dan ajakan kelompok radikalisme, terorisme," beber Komjen Pol Boy Ramli Amar.

Dengan kapasitasnya sebagai seorang istri, perempuan bisa menjadi pasangan suami dan anak dalam membahas berbagai hal termasuk mengenai pemahaman agama. Sehingga jika anggota keluarganya mendapat ajaran radikalisme dari luar, hal itu bisa segera disadari.

"Dengan peran seperti itu, maka perempuan bisa menjadi filter awal atau pendeteksi awal dari setiap kejanggalan yang ditemukan dalam keluarga masing-masing," pungkas Boy Ramli Amar.

(wk/amel)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait