Sepekan Menghilang, Kepala Basarnas Angkat Bicara Mengenai Metode Pencarian Emmeril Kahn   Mumtadz
Instagram/emmerilkahn
Nasional

Eril diketahui hilang terseret arus saat berenang di Sungai Aare, Bern, Swiss, pada Kamis (26/5) pekan lalu. Meski Ridwan Kamil dan keluarganya telah pulang ke Tanah Air, pencarian Eril masih akan terus dilanjutkan.

WowKeren - Keluarga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil telah menyatakan bahwa Emmeril Kahn Mumtadz alias Eril meninggal karena tenggelam. Eril diketahui hilang terseret arus saat berenang di Sungai Aare, Bern, Swiss, pada Kamis (26/5) pekan lalu.

Meski Ridwan Kamil dan keluarganya telah pulang ke Tanah Air, pencarian Eril masih akan terus dilanjutkan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Status Eril yang awalnya pencarian orang hilang kini sudah diganti menjadi pencarian orang tenggelam.

Ketua Basarnas Marsekal Madya TNI Henry Alfiandi lantas turut angkat bicara soal metode pencarian di Swiss yang berbeda dengan di Indonesia. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang membuat Eril masih belum ditemukan hingga saat ini.

"Kalau masalah sekarang ok belum bisa ditemukan, perlu diingat air yang deras itu adalah hasil dari lelehan atau cairan gletser. Sehingga pada musim ini, ini kan sudah menjelang musim panas kan itu semakin kuat," papar Henry dalam video di kanal YouTube Intens Investigasi. "Tapi jernihnya itu jernih, jernih yang dari lelehan salju tidak begitu bening gitu loh, kelihatannya saja dan dingin, dingin sekali."

Lebih lanjut, Henry juga memberikan penjelasan soal kemungkinan Eril akan ditemukan dalam waktu tiga minggu.


"Mengenai pernyataan kalo 99,9 tiga minggu kan, yaitu menunggu dekomposit itu kalo memang beliaunya itu adalah yang tidak kita inginkan," jelasnya. "Itu masalahnya sekarang belum bisa ditemukan dan kita tidak tahu apakah tersangkut di batu-batuan, apakah hanyut sampai jauh kita belum tahu, kontur di sana seperti apa."

Selain itu, metode pencarian di Swiss yang dilakukan secara visual dengan teropong air dianggap masih sangat manual. Hal ini dinilai membuat tim kesulitan mencari Eril dan diperlukan teknologi canggih untuk mempercepat proses pencarian.

"Dan sistem pencarian di sana kalo saya liat dia by visual, dia menggunakan teropong air sedangkan di Indonesia kita sudah pakai teknologi radar," tuturnya. "Jadi kita mencari itu dengan sonar itu akan bisa mencari, saya dari kemarin memperhatikan metode pencarian di sana masih sangat manual sekali."

Air keruh bisa membuat proses pencarian menggunakan teropong air kurang efektif dan membuat tim pencari kesulitan. Henry menilai alat yang lebih canggih dibutuhkan untuk melakukan proses pencarian tersebut.

"Jadi metodenya selama ini begitu orang tenggelam dicari dengan cara seperti itu. Kondisi sekarang karena gletsernya mencair, cairan gletsernya malah keruh, dia tidak bisa menemukan itu," tukasnya. "Harusnya pakai device-device yang lebih canggih lagi."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait