Warga membutuhkan edukasi terkait bencana alam yang sering menimpa Indonesia.
- Nur Islamiyah
- Kamis, 04 Oktober 2018 - 16:34 WIB
WowKeren - Duka yang mendalam masih dirasakan masyarakat Indonesia terkait gempa dan tsunami yang melanda Donggala-Palu pada 28 September lalu. Pihak yang bersangkutan pun masih terus mengusut bencana tersebut.
Badan Informasi Geospasial (BIG) akhirnya berhasil mengetahui waktu persisnya kejadian tsunami yang menghantam Teluk Palu setelah mendapatkan data dari stasiun pasang surut di Pantoloan. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh BIG, diketahui air surut maksimal terjadi Jumat (28/9) pukul 18.08 WITA. Sementara pasang maksimal pukul 18.10 WITA, dilansir dari Kompas.
Mohamad Arief Syafii, Deputi Informasi Geospasial Dasar BIG menyatakan bahwa tsunami mulai terjadi 6 menit setelah gempa. Sementara hanya 8 menit setelah gempa tepatnya pukul 18.10 WITA, tsunami sudah sampai ke Pelabuhan Palu di Pantoloan.
Melihat jarak Pantolan ke Kota Palu yang kira-kira 28 kilometer, Arif mengatakan beda waktu gelombang tsunami menerjang lokasi itu tidak sampai 1 menit. Tinggi maksimum gelombang yang terbaca lewat tide gauge di Pantolan adalah 2 meter. Namun, tsunami yang menerjang Palu mungkin lebih dari angka itu.
"Gelombang di Palu bisa lebih tinggi karena masuk ke teluk yang lebih sempit dan dangkal," ujar Arief. "Berdasarkan informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ketinggian di Palu ada yang 6 meter."
Jarak antara gempa dan tsunami yang cukup dekat ini menegaskan pernyataan yang sebelumnya diungkap oleh peneliti geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto. Ia mengatakan bahwa masyarakat perlu diedukasi dalam mengenali gempa untuk dapat mengurangi resiko tsunami.
“Kasus seperti 25 Oktober 2010 di Mentawai, orang yang selamat yang kita interview saat itu melihat tulisan ‘berpotensi tsunami’ di televisi. Dia keluar, lari sedikit, air sudah menggulung,” tuturnya. "Untuk memberikan warning pertama yang isinya biasanya kekuatan gempa yang berpotensi tsunami dan untuk mengeluarkan analisisnya itu perlu paling tidak 3 menit, belum deseminasinya."
Menurut Eko, sistem peringatan dini bencana alam baru bisa berguna ketika jarak tsunami ke daratan jauh. Akan lebih efektif lagi jika ada pendidikan tentang tsunami dengan memahami gejala-gejala tsunami.
(wk/nris)