Beberapa pegawai Komdis PSSI mengaku mendapatkan teror mulai dari olok-olok hingga pembunuhan lewat nomor pribadi mereka.
- Silmi Amalia Fidareni
- Jumat, 05 Oktober 2018 - 09:25 WIB
WowKeren - Dunia sepak bola Tanah Air kembali tercoreng namanya. Seorang suporter Persija, Jakarta, Haringga Sirila, diketahui meninggal dunia pada Minggu (23/9) kemarin. Ia merenggang nyawa usai dikeroyok oleh sejumlah oknum bobotoh di kawasan luar Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Pada saat itu, sedang berlangsung pertandingan antara Persib Bandung kontra Persija Jakarta.
Aksi kejam inipun menuai banyak kecaman dari berbagai pihak. Bahkan, Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi banyak mendapatkan tuntutan untuk mundur.
Menyebabkan tewasnya Haringga, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI pun akhirnya memberikansanksi untuk beberapa pihak yang terkait dalam kasus ini, khususnya pada Persib Bandung.
Dalam beberapa poin sanksi tersebut, salah satunya berupa hukuman untuk melakukan pertandingan kandang di luar Pulau Jawa tanpa penonton. Sementara itu, untuk para pelaku pengeroyokan Haringga, sanksi yang dikeluarkan PSSI adalah berupa larangan untuk menonton sepak bola di wilayah Republik Indonesia selama seumur hidup.
Tak disangka, sanksi yang diberikan oleh Komdis PSSI itupun menuai pro dan kontra. Bagi para pendukung Persib, hal itu dinilai sangat memberatkan dan tidak bijaksana.
Akibat keputusan itupun, Komdis PSSI mengaku mendapatkan sejumlah teror dari orang-orang yang tidak dikenal. Mereka dihantui teror berupa olok-olokan hingga ancaman.
Pengakuan mengenai teror yang diterima Komdis PSSI ini diungkap oleh Head of Media Relation and Digital Promotion PSSI, Gatot Widakdo. Ia menyatakan bahwa sejumlah anggota Komdis PSSI mendapatkan ancaman pembunuhan atas penjatuhan sanksi pada Persib tersebut.
"Ya, pengurus PSSI menerima ribuan teror lewat alat komunikasi pribadi. Dari sekadar olok-olok, hingga ancaman pembunuhan atas hukuman yang dijatuhkan Komisi Disiplin tersebut," jelas Gatot kepada para wartawan saat ditemui pada Kamis (4/10) kemarin. "Tentu kami sangat menyayangkan teror itu dilakukan lewat nomor telepon pribadi hingga mengganggu proses kerja mengurusi sepakbola nasional.".
Meskipun demikian, Gatot menyatakan masih belum melakukan laporan apapun kepada polisi terkait teror yang diterima pegawai mereka. "Kami juga heran, bagaimana mungkin nomor telepon pribadi pengurus bisa disebarluaskan hanya untuk mengirimkan teror-teror yang berbau kebencian dan ancaman pembunuhan. Sebaiknya hal ini dihentikan dan mari berpikir positif. Kami pun belum berencana melaporkannya ke pihak Kepolisian, meski ini bisa kami perkarakan," jelas Gatot.
(wk/silm)