Angka defisit Indonesia semakin terpuruk karena impor yang tinggi tidak sejalan dengan ekspor yang kian melemah.
- Wahyu
- Kamis, 20 Desember 2018 - 13:07 WIB
WowKeren - Selama ini, angka defisit Indonesia memang cukup memprihatinkan. Bahkan November lalu, Indonesia mengalami defisit terburuk sepanjang 2018, yakni sekitar dua miliar dolar AS. Sedangkan total defisit Indonesia selama tahun 2018 mencapai 7.52 miliar dolar AS.
Kemunduran defisit ini rupanya menjadi sorotan bagi kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Menurut pihaknya, pemerintah saat ini masih belum mampu menahan defisit yang terus melambung tinggi lantaran ekspor Indonesia yang terus melemah. Selain itu, Indonesia masih belum punya produk andalan untuk diekspor.
“Pertama, defisit itu utamanya karena ekspor kita melemah,” ujar Direktur Konsolidasi Nasional Koalisi Pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno Fuad Bawazier di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Rabu (19/12). “Kita tidak punya ekspor andalan.”
Fuad menuturkan bahwa di Era Orde Baru sebelumnya, Indonesia punya ekspor andalan seperti playwood. Industri tekstil Indonesia pada waktu itu juga berkembang cukup pesat. Yang mana, kedua hal ini tidak ada di pemerintahan sekarang.
“Era Orde Baru, kita punya komoditas ekspor andalan dan dikawal oleh Pemerintah dan itu berhasil (seperti) playwood, tekstil kita jalan,” tambah Fuad. “(Sekarang) Ini enggak ada.”
Indonesia memang sudah memiliki kebijakan ekonomi untuk menaikkan nilai ekspor dan juga valuta asing. Sayangnya menurut Fuad, hal itu tidak dijalankan secara maksimal oleh pemerintah saat ini. Semua kebijakan itu sifatnya hanya di atas kertas, belum benar-benar direalisasikan.
“Paket kebijakan ekonomi yang sudah bertumpuk, itu satu meningkatkan ekspor, satu valuta asing,” timpal mantan Menteri Keuangan itu. “Cuma ini semua diatas kertas, diumumin sendiri tapi tidak jalan.”
Salah satu penyebab utama menurunnya defisit di Indonesia adalah berasal dari sektor migas. Kebijakan pemerintah untuk mencampurkan minyak sawit ke solar sebesar 20 persen (B20) dianggap tidak begitu memberi dampak yang signifikan.
Adapun kebijakan tersebut bertujuan untuk memulihkan harga sawit yang jeblok. Sehingga jika diaplikasikan ke mesin-mesin, justru akan menimbulkan kerusakan.
“Untuk mengurangi neraca perdagangan makanya ada B20, itu tidak jalan,” papar Fuad. “Angka itu tidak pengaruh B20, kalau dikasih B20 rusak mesin kita, itu memang untuk bantu (harga) sawit yang jatuh.”
Menurunnya angka defisit di Indonesia diperparah dengan kondisi pemerintahan yang koruptif. Membludaknya para pejabat yang melakukan korupsi dinilai ikut menghambat pelaksanaan kebijakan ekonomi pemerintah.
“Karena penyakit korupsi,” tambah Fuad. “Menegakan pemerataan tidak bisa, melakukan perbaikan ekspor tidak bisa, impor ditekan tidak bisa.”
(wk/wahy)