Menanggapi tantangan Andi Arief terhadap Jokowi, PDIP mengingatkan tim Prabowo atas kasus-kasus pelanggaran HAM yang pernah dilakukan sebelumnya.
- Wahyu
- Senin, 31 Desember 2018 - 16:04 WIB
WowKeren - Tim capres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno rupanya cukup gerah dengan tuduhan kasus pelanggaran HAM yang kerap ditujukan kepada kubunya. Menanggapi respon tersebut, Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief menantang Presiden Joko Widodo alias Jokowi untuk mendonorkan satu matanya pada Novel Baswedan.
“Kalau masih ada yang yang berkoar soal penculikan atau pembunuhan masa lalu, sebaiknya besok pagi lihat mata Novel Baswedan,” cuit Andi dalam lewat akun Twitter miliknya pada Minggu (30/12). “Tanyakan pada sebelah matanya, Jokowi ngapain aja.”
Kalau masih ada yang yang berloar soal penculikan atau pebunuhan masa lalu, sebaiknya besok pagi lihat mata Novel Baswedan. Tanyakan pada aebelah matanya, Jokowi ngapain aja?
— andi arief (@AndiArief__) December 30, 2018
Terkait hal ini, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memberi kritikan pedas dengan menyinggung peristiwa Kudatuli. Sekretaris Badan Pelatihan dan Pendidikan DPP PDIP, Eva Kusuma Sundari, menilai adanya keterlibatan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam peristiwa tersebut.
“Terus gimana mengganti ratusan korban Kudatuli yang mati dan hilang,” cetus Eva dilansir detikcom pada Senin (30/12). “Yang Ketum PD somehow harus bertanggung jawab juga kalau pakai logika dia.”
Kudatuli merupakan peristiwa kerusuhan yang terjadi pada 27 Juli 1996 silam di kantor PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Dalam kerusuhan tersebut, sedikitnya 5 orang dilaporkan meninggal dunia. SBY yang waktu itu menjabat sebagi Kepala Staf Komando Daerah Militer dituding terlibat dalam aksi itu karena ikut memberikan perintah untuk menduduki kantor PDI.
Eva juga melayangkan kritik pedas ke Prabowo dengan menyinggung hilangnya aktivis yang diculik pasukan Mawar 1998 silam. Prabowo dianggap terlibat dalam penculikan sejumlah aktivis kala itu.
“Lalu gimana Pak Prabowo mengganti aktivis yang diculik pasukan Mawar,” tegas Eva. “Dan sampai sekarang masih hilang? Aktivis HAM kok pakai logika kekuasaan untuk atur negara.”
Terkait kasus Novel Baswedan, Eva meminta rakyat untuk mempercayakan kasus tersebut pada pihak berwajib. Hal ini mengingat Indoensia adalah negara hukum.
(wk/wahy)