Menurut Syaefudin, MUI DKI tidak netral dengan memfasilitasi agenda tersebut.
- Nur Islamiyah
- Senin, 25 Februari 2019 - 19:37 WIB
WowKeren - Hafidz Alumni Kampus Alquran PTIQ dan Forum Ukhuwah Pengurus dan Imam Masjid Jakarta (FURUIA) mendatangi kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pada Senin (25/2) ini. Kedatangan para hadfiz tersebut untuk meminta Ketua MUI DKI Jakarta KH Munahar Muchtar dicopot dari jabatannya.
Hal tersebut berkaitan dengan acara Munajat 212 yang digelar di Monas, Jakarta Pusat, Jumat (21/2) lalu. Ia dinilai merusak marwah MUI dan melanggar AD/ART.
"Kami dari keluarga besar Alumni Insan Hafidz Quran dari Kampus PTIQ dan pengurus masjid Jakarta ingin menyampaikan beberapa hal," ujar Dewan Pembina Insan Hafidz PTIQ dan Forum Ukhuwah Imam Jakarta, Syaefudi, seperti dikutip dari Detik. "Pertama menyikapi tentang acara Munajat 212, kami tidak sepakat MUI DKI memfasilitasi acara yang berbau politik, jelas karena ada simbol-simbol dan orasi-orasi tokoh politik."
Menurut Syaefudin, MUI DKI tidak netral dengan memfasilitasi agenda tersebut. Seharusnya tokoh-tokoh dari kedua belah pihak di Pilpres 2019 tidak ada di lokasi jika MUI mengaku netral.
"Ternyata ini kami ikuti dari awal sampai akhir bersama pengurus masjid Jakarta ini hanya ada satu pihak dari pasangan capres yang satu pihak saja, itu masalahnya. Yang kedua, kami melihat MUI itu harus dijunjung tinggi karena sebagai ormas tertinggi di republik ini yang menaungi seluruh umat Islam di Indonesia, apakah itu NU, Muhammadiyah dan segala macem ada di MUI, dinaungi oleh MUI," lanjutnya. "Maka, kami sangat sedih, kami dari generasi muda, pengurus masjid dan pengurus PTIQ, kami menyayangkan tindakan tersebut, itulah sebabnya kami datang ke MUI Pusat sebagai lembaga suci bagi kami, harus kita jaga marwahnya, harus kita jaga netralitasnya dari urusan politik praktis."
"Berikutnya yang tidak kalah penting menurut kami ketua MUI DKI itu telah melanggar AD/ART MUI," katanya. "Untuk itu kami ingin menyampaikan ke MUI Pusat agar segera dicopot ketua MUI DKI yang sekarang, dicopot dari jabatannya karena telah menjatuhkan marwah Majelis Ulama Indonesia."
Sementara itu, Munajat 212 sendiri menimbulkan sejumlah kontroversi. Mulai dari kericuhan akibat aksi copet, hingga dugaan kekerasan pada awak media yang hadir untuk meliput.
Salah satu momen di Munajat 212 yang hingga kini masih banyak diperbincangkan adalah pembacaan puisi oleh Neno Warisman. Pasalnya, banyak yang menduga Neno memberikan ancaman pada Tuhan lewat penggalan puisinya.
(wk/nris)