Direktur Pengembangan PT Jasa Marga, Adrian Priohutomo, menegaskan pembangunan jalan tol sudah dipikirkan dampak dan antisipasinya.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 08 Maret 2019 - 20:17 WIB
WowKeren - Sejumlah wilayah di Jawa Timur tengah dilanda banjir bandang, termasuk Kabupaten Madiun. Sebanyak 52 desa yang ada di 12 kecamatan di Kabupaten Madiun terendam banjir pada Kamis (7/3). Tak hanya itu, jalan tol Ngawi-Kertosono bahkan juga sempat terendam.
Direktur Pengembangan PT Jasa Marga, Adrian Priohutomo, lantas membantah keberadaan jalan tol tersebut yang menjadi penyebab banjir bandang di Madiun. Pasalnya, pembangunan jalan tol sudah dipikirkan dampak dan antisipasinya.
"Pembangunan tol itu sudah dikoordiniasi semua pihak termasuk amdalnya segala macam dan ahli," jelas Adrian dilansir Kompas.com, Jumat (8/3). "Semua sudah dipikirkan. Tidak mungkin jalan tol dibuat menyengsarakan masyarakat."
Menurut Adrian, banjir yang melanda jalan tol tersebut bukanlah tanpa penyebab. Luapan air di ruas tol KM 604 disebabkan oleh debit air sungai Jerowan dan jebolnya beberapa tanggul di Balerejo.
"Kalau salahkan tol rasanya gimana," ujar Adrian. "Kami sudah mengikuti prosedur yang ada baik dari sisi desain, perizinan dan amdalnya, sudah kami ikuti."
Adrian juga mengaku bahwa dalam perencanaannya, jalan tol sudah didesain untuk bisa mengatasi genangan air setinggi 60-80 sentimeter. Namun, debit air kala banjir menerjang jalan tol terlalu tinggi.
"Kenapa sampai di jalan tol. Sebenarnya jalan tol ini sudah direncanakan seluruh kemungkinan yang terjadi," jelas Adrian. "Selain itu, sudah memiliki space mengantisipasi luapan yang sangat tinggi. Kebetulan curah hujan sangat tinggi sehingga di luar kebiasaan yang terjadi sebelumnya."
Untuk mengantisipasi kejadian serupa ke depannya, Adrian mengaku pihak PU telah melakukan survei ke lokasi. Dengan demikian, diharap mereka dapat menangani apabila terjadi banjir bandang.
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Teknik PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri (JNK), Mulya Setiawan. Menurut Mulya, luapan banjir dari sungai Jerowan tersebut di luar kebiasaan.
"Dengan data-data baru dari survei hidrologi maka dilakukan tindakan teknis seperti penambahan cross train/saluran melintang agar surutnya cepat saat banjir datang," jelas Mulya. "Kebetulan ruas tol KM 604 terendah."
(wk/Bert)