Berdasarkan keterangan seorang jurur parkir, Iwan memiliki sekitar 3 toko emas.
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 30 Maret 2019 - 08:26 WIB
WowKeren - Video viral yang memperlihatkan seorang ibu mendorong anaknya hingga jatuh dari mobil masih santer dibicarakan. Kejadian itu berlangsung di Kota Malang pada Selasa (25/3).
Diketahui, ibu tersebut merupakan istri dari seorang pemilik toko emas Gangsar di Pasar Kepanjen, Iwan M. Saat kejadian, Iwan mengaku tidak sedang bersama anak dan istrinya, namun masih berada di toko. Ia mengatakan bahwa selama ini yang biasa mengantar-jemput anak-anaknya adalah sang istri dan juga pegawai.
"Waktu Itu di Jalan Veteran. Tapi posisi saya di toko. Saya di toko," kata Iwan dilansir dari Tribunnews, Sabtu (30/1). "Jadi yang antar jemput juga istri. Sama pegawai saya."
Ayah dari tiga orang anak tersebut mengaku terkejut melihat video yang memperlihatkan istri dan anaknya viral di media sosial. Pasalnya selama ini, istrinya tidak pernah bertindak kasar pada anak-anaknya. Ia juga menyebut bahwa sang istri sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya.
"Sebelumnya nggak pernah kayak gitu. Dari pihak keluarga sempat shock sih melihat. Karena sebelumnya dia gak pernah main tangan," jelas Iwan. "Marahin ya normal. Makanya dari kami, istri sudah menyesal ya sudah kami maafkan. Selama ini juga dia (istri) sudah baik."
Adapun siswa SD yang ada di video tersebut adalah putri keduanya. "Saya tegaskan istri saya cuman satu. Anak saya tiga. Masih kecil-kecil semua. Yang terakhir mau tiga tahun. Yang di video itu anak kedua," tutur Iwan.
Sementara itu berdasarkan pengakuan juru parkir, Iwan memiliki sekitar tiga toko emas. Menurutnya, toko-toko tersebut memang merupakan usaha keluarga
"Banyak, tiga toko kalau nggak salah. Ya kayaknya seperti usaha keluarga," jelas juru parkir tersebut. "Ada abahnya (ayah) juga buka toko emas di sini."
Sebelumnya, kejadian tersebut sempat disayangkan oleh Wali Kota Malang, Sutiaji. Sutiaji menilai bahwa perbuatan itu bisa mencoreng citra baik Malang selama ini yang dikenal sebagai Kota Layak Anak.
Tak hanya itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mengaku prihatin dengan kejadian tersebut. KPAI menilai bahwa orang tua tak seharusnya berbuat demikian pada anaknya apapun alasannya.
(wk/zodi)