O-Bahn merupakan transportasi yang menggabungkan bus dan kereta api. Moda transportasi ini telah dikembangkan di sejumlah negara seperti Jerman, Australia, dan Jepang.
- Wahyu
- Senin, 24 Juni 2019 - 14:52 WIB
WowKeren - Sejumlah transportasi massal sudah mulai dikembangkan di Indonesia. Mulai dari BRT (Bus Rapid Transit), kemudian MRT (Mass Rapid Transit), dan yang terbaru pembangunan LRT (Light Rail Transit). Walaupun masih belum semua kota menikmati transportasi massal ini.
Namun baru-baru ini pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) disebut tengah mengkaji pengembangan moda transportasi baru bernama O-Bahn. Moda transportasi ini akan menggabungkan konsep bus dengan jalur khusus seperti rel kereta.
Namun rencana ini justru disambut negatif oleh Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno. Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ini menyatakan pengadaan O-Bahn sebaiknya hanya menjadi wacana saja. Ia menilai pemerintah belum siap untuk merealisasikan O-Bahn, terutama soal ketersediaan dana.
"Wacana Kemenhub untuk mengoperasikan O-Bahn sebagai transportasi umum untuk mengatasi kemacetan di beberapa kota di Indonesia dengan konsep smart city lebih baik diabaikan saja," tutur Djoko, Senin (24/6). "Keterbatasan keuangan negara dan kemampuan fiskal daerah menjadi pertimbangannya."
Lebih lanjut, Djoko menilai konsep O-Bahn ini belum tentu bisa diterima semua kalangan, terutama Pemerintah Daerah (Pemda). Oleh karenanya ia mengatakan pembangunan O-Bahn tak perlu dilanjutkan untuk ke depannya. Terlebih ongkos pengadaan teknologinya pun juga memakan banyak biaya.
"Apalagi regulasi untuk menerapkannya belum ada," paparnya, dikutip dari Liputan6. "Bisa jadi masalah baru jika belum dilengkapi dengan regulasi."
"Teknologi yang tidak murah, masih asing di Indonesia, butuh waktu menyiapkan prasarana pendukung dan mempelajari teknologinya," pungkasnya. "Untuk lima tahun ke depan cukup sebagai wacana saja."
Sebelumnya Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengaku pihaknya tengah mengkaji penggunaan O-Bahn sebagai alternatif pilihan angkutan massal perkotaan di Indonesia. Moda transportasi ini merupakan gabungan antara BRT dan LRT.
"Dengan semakin terbangunnya infrastruktur jalan, tentunya perlu dilakukan antisipasi agar masyarakat tidak memenuhinya dengan kendaraan pribadi," ujar Budi, Senin (24/6). "Caranya yaitu dengan mengoptimalisasikan angkutan massalnya."
Proyek O-Bahn sendiri tidak ditargetkan untuk DKI Jakarta, tetapi untuk daerah yang belum memiliki transportasi massal yang efektif. Hal ini dikonfirmasi oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulkifri.
"O-Bahn akan diterapkan di kota-kota yang angkutannya belum optimal. Kita diskusi terus untuk apa yang kita kembangkan," kata Zulkifri. "Yang cocok yang tidak ada angkutan umum massal yang besar, seperti misalnya Ciledug. Daerah yang tidak ada akses kereta nanti dikembangkan dengan O-Bahn."
(wk/wahy)