Selama ini, masyarakat Pacitan masih bergantung pada sumber air yang berasal dari Sungai Sukorejo, termasuk untuk kebutuhan konsumsi. Sayangnya, sungai tersebut mengandung bakteri E-coli.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 02 Juli 2019 - 15:58 WIB
WowKeren - Wabah hepatitis A telah berkembang menjadi masalah yang cukup serius di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sejak penyakit ini mulai menjangkiti warga di sana Juni lalu, jumlah korban yang menderita hingga kini hampir mencapai 1.000 orang. Tak heran jika Pemkab setempat menetapkannya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kementerian Kesehatan ikut menanggapi fenomena ini. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono menduga bahwa penularan terjadi melalui media air. Meski demikian, hal itu memerlukan analisis lebih lanjut untuk bisa dibuktikan.
"Sementara media (penularan virus) yang digunakan berupa air diduga, menggunakan air yang tidak dimasak," kata Anung dilansir dari CNN Indonesia, Selasa (2/7). "Tetapi perlu dilakukan analisis epidemiologi lebih lanjut."
Masyarakat Pacitan selama ini masih bergantung pada sumber air yang berasal dari Sungai Sukorejo. Padahal berdasarkan informasi yang beredar, sungai tersebut telah tercemar oleh limbah, termasuk limbah rumah tangga.
"Ada banyak limbah rumah tangga yang mengalir ke sungai," jelas Anung. "Air sungai tersebut didistribusikan melalui mobil tangki untuk dijual ke masyarakat sebagai sumber air bersih."
Anung mengatakan bahwa setelah dilakukan penelitian, diketahui bahwa Sungai Sukorejo mengandung bakteri Escherichia coli. Mirisnya, air ini dipakai oleh masyarakat untuk kebutuhan konsumsi. Misalnya jajanan saat bulan puasa atau acara syukuran lainnya sebelum, saat, dan sesudah periode lebaran.
"Pada bulan Ramadan masyarakat sekitar kasus banyak mengkonsumsi jangelan atau cincau yang dibawa oleh pedagang keliling," tutur Anung. Ia kemudian juga mendapati adanya depot air minum isi ulang yang tidak mempunyai merek.
Hepatitis A juga dipicu oleh kondisi cuaca yang kering. "Pada saat kekeringan konsentrasi air sedikit, jumlah kuman banyak. Sehingga mudah menginfeksi," tutur Anung.
Laporan terkait Hepatitis A di Pacitan muncul sejak bulan Juni. Di hari-hari berikutnya, jumlah korban yang terjangkit penyakit ini dilaporkan terus bertambah. Hingga akhirnya Pemkab Pacitan menetapkannya sebagai KLB.
(wk/zodi)