Boeing mengaku akan bekerjasama dengan pemerintah di Indonesia dan Ethiopia, serta organisasi LSM, untuk menyalurkan santunan tersebut kepada keluarga korban.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 04 Juli 2019 - 12:03 WIB
WowKeren - Perusahaan pesawat Boeing siap memberikan santunan sebesar USD 100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun kepada keluarga korban kecelakaan pesawat jenis 737 Max 8 di Indonesia dan Ethiopia. Diketahui, kedua kecelakaan tersebut memakan korban sebanyak 346 jiwa.
Dilansir Reuters pada Kamis (4/7), untuk menyalurkan santunan tersebut kepada keluarga korban, Boeing bakal bekerjasama dengan pemerintah di Indonesia dan Ethiopia, serta organisasi LSM. Meski begitu, Boeing tidak menyebutkan otoritas atau organisasi mana yang akan menerima uang tersebut.
Pihak Boeing menjelaskan bahwa santunan tersebut dapat membantu pendidikan hingga biaya hidup para keluarga korban. Tak hanya itu, santunan tersebut juga ditujukan bagi komunitas yang terpengaruh oleh kedua kecelakaan fatal tersebut.
"Dana ini akan mendukung pendidikan, kesulitan dan biaya hidup untuk keluarga yang terkena dampak, program masyarakat, serta pembangunan ekonomi di masyarakat yang terkena dampak," tulis Boeing dalam keterangan resminya pada Rabu (3/7). "Dana ini akan dibayarkan selama beberapa tahun."
CEO Boeing, Dennis Muilenburg, juga kembali mengucapkan permohonan maafnya kepada para keluarga korban kecelakaan pesawat 737 Max 8. Muilenburg mengaku nyawa para korban yang melayang dalam kecelakaan ini akan terus membebani hati pihak Boeing.
"Kami pihak Boeing menyesal atas kematian tragis dalam kedua kecelakaan ini. Nyawa yang hilang ini akan terus membebani hati dan pikiran kami selama bertahun-tahun yang akan datang," ujar Muilenburg. "Kami sangat berduka cita bagi keluarga dan orang-orang terkasih dari para penumpang yang ada di pesawat. Kami berharap penjangkauan awal ini dapat membantu memberi para keluarga korban kenyamanan."
Sebelumnya, memang ditemukan adanya cacat dalam perangkat lunak pesawat 737 Max 8 milik Boeing. "Masalah perangkat lunak dalam sistem komputer pesawat ditemukan oleh pilot Administrasi Penerbangan Federal (FAA) yang menguji perangkat lunak MAX yang diperbarui," kata Boeing dilansir dari Independent, Kamis (27/6).
Boeing sendiri sempat mengakui bahwa pihaknya sudah mengetahui jika 737 MAX sudah bermasalah, bahkan satu tahun sebelum tragedi Lion Air terjadi. Sayangnya, para pemimpin senior serta Otoritas Penerbangan Federal (FAA) tidak mengetahui persoalan itu hingga kecelakaan terjadi di Perairan Karawang Oktober lalu.
(wk/Bert)