Meski mendapat banyak penolakan, wacana pemerintah untuk mendatangkan rektor asing guna meningkatkan kualitas universitas di Indonesia mendapat respons baik dari Jokowi.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 01 Agustus 2019 - 15:12 WIB
WowKeren - Presiden Joko Widodo alias Jokowi setuju dengan usulan untuk mendatangkan rektor asing guna memimpin perguruan tinggi negeri di Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M Nasir.
Nasir mengatakan bahwa usulan tersebut sudah disampaikan ke Jokowi secara lisan. Jokowi pun memberikan sinyal lampu hijau untuk meneruskan wacana tersebut. Oleh sebab itu, pihak Kemenristekdikti akan melakukan persiapan untuk melaksanakannya.
"Beliau setuju, tergantung bagaimana saya siapkan," kata Nasir di Undip Semarang, Kamis (1/8). "Kalau persiapan tidak bagus ya mungkin kita pending atau bagaimana."
Persiapan yang dilakukan cukup banyak, mulai dari peraturan yang harus diperbaiki dan juga daftar universitas mana saja yang akan menerapkannya. "Tata kelola perbaiki, peraturan pemerintah, peraturan menteri," tambah Nasir.
Rencananya, rektor asing akan mulai didatangkan pada 2020 mendatang hingga 2024. Namun, hal itu hanya untuk beberapa universitas percontohan. "Kita petakan perguruan tinggi mana yang layak, kita punya 4.700 perguruan tinggi, ambil contoh 2 atau 5 selama 2020-2024, tidak semua rektor," jelas Nasir.
Nasir mengakui bahwa wacana ini tidak akan mudah untuk dilaksanakan mengingat tak sedikit pihak yang kurang sepakat. Usulan untuk mendatangkan rektor asing sudah bergulir sejak 2016 lalu. "Penolakan banyak, yang menolak tidak pernah lihat perguruan tinggi asing seperti apa," tegas Nasir.
Sebelumnya, wacana mendatangkan rektor asing ini menuai kritik. Salah satunya datang dari Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana. Menurutnya, kondisi perguruan tinggi Indonesia tidak bisa disamakan dengan Singapura. Selain karena universitas di sana memakai Bahasa Inggris sebagai bahasa dalam proses pengajaran, pemerintah Singapura juga diketahui memang melakukan investasi besar-besaran untuk pengembangan perguruan tinggi.
"Bila rektor asal asing memimpin PTN di Indonesia alangkah sulitnya bagi rektor tersebut untuk memastikan proses belajar mengajar dalam Bahasa Inggris," kata Hikmahanto melalui keterangannya, Rabu (31/7). "Bahkan sulit untuk membentuk budaya meneliti bagi para dosennya dan memastikan hasilnya masuk dalam jurnal."
(wk/zodi)