Mumtasyar PBNU KH Maimun Zubair diketahui berpulang pada Selasa (6/8) subuh waktu Arab Saudi. Mbah Moen meninggal dunia ketika tengah melaksanakan ibadah haji.
- Elvariza Opita
- Jumat, 09 Agustus 2019 - 01:00 WIB
WowKeren - Wafatnya kiai sepuh KH Maimun Zubair alias Mbah Moen pada Selasa (6/8) masih menjadi sorotan. Namun kali ini perhatian publik tak hanya tertuju pada wafatnya Mbah Moen, tetapi juga pada sosok Habib Rizieq Syihab dan Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel.
Pasalnya, sebelumnya, Rizieq dikabarkan menghadiri pemakaman Mbah Moen pada Selasa sore. Bahkan video yang menunjukkannya tengah memimpin doa beredar luas di media sosial.
Namun belakangan informasi itu disanggah oleh Kementerian Agama. Kemenag menegaskan Menag Lukman Hakim Saifuddin dan Agus Maftuh lah yang memimpin prosesi pemakaman.
Bahkan Agus Maftuh menyebut Rizieq sudah melakukan penyerobotan doa. Namun rupanya sang Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) justru berada di lubang makam yang salah.
Menanggapi hal tersebut, putra Mbah Moen, Gus Taj Yasin mengaku tak mempermasalahkan siapapun yang berniat mendoakan mendiang ayahnya. Sebab, menurutnya, sang ayah merupakan sosok pemersatu bangsa. Sehingga wajar apabila semua kalangan turut berduka dan mendoakan Mbah Moen.
"Kami hanya berharap kesedihan kita, kehilangan kita dengan sosok yang tak diragukan lagi menjadi pemersatu sebenarnya," kata Gus Yasin di Forum Silaturahim Nahdlatul Ulama se-Dunia XVIII di Mekkah, Arab Saudi, Kamis (8/8). "(Beliau) perekat kita bersama."
Selain Gus Yasin, agenda yang diadakan demi mendoakan Mbah Moen itu juga dihadiri oleh Menag Lukman. Dalam kesempatan tersebut, Lukman mengaku menyaksikan betapa semuanya bersedih atas kepergian sang kiai karismatik.
"Bukan hanya kita yang bersedih. Alam pun turut berduka," ujarnya saat memberikan sambutan. "Orang-orang dari berbagai kalangan merasa kehilangan sehingga doa terpanjat dari mana saja. Kiai, jamaah, habib, sampai pendeta."
Hal ini, tutur Lukman, menunjukkan bahwa almarhum merupakan milik semua orang. Mbah Moen adalah milik bangsa dan tak bisa lagi sekadar dieksklusifkan milik kelompok tertentu saja seperti NU.
"Lalu (tidak benar kalau) orang lain tidak boleh mendoakan," katanya, dilansir dari Vivanews. "Semoga semakin banyak orang NU yang mampu meneladani Mbah Moen, dan kita termasuk di dalamnya."
(wk/elva)