Sri Mulyani menyebutkan jika pertumbuhan investasi di Indonesia masihlah lambat. Hal itu disebabkan Indonesia sendiri yang masih memiliki sistem ekonomi yang belum efisien.
- Wahyu
- Jumat, 09 Agustus 2019 - 14:48 WIB
WowKeren - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengungkap jika salah satu penyebab perlambatan investasi di Indonesia adalah karena sistem ekonomi yang dimiliki Indonesia masih belum efisien. Hal ini ditandai dengan ratio Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang juga belum menunjukan peranannya.
ICOR adalah rasio penambahan modal dengan penambahan pengeluaran. ICOR bisa menjadi salah satu parameter yang menunjukkan tingkat efisiensi investasi di suatu negara.
Sri Mulyani mengaku, meskipun ICOR Indonesia berada di atas rata-rata negara Asia di kisaran 6 persen namun posisi Indonesia masih di bawah Tiongkok yang memiliki ICOR di atas 8 persen. Pertumbuhan negara Tirai Bambu itu menjadi tinggi karena produksi output yang dihasilkan jauh lebih rendah dari input yang masuk.
Untuk Indonesia, Sri Mulyani menyebabkan jika Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi faktor fundamental yang dapat ICOR. Hal ini dikarenakan SDM terkendala masalah pendidikan yang relatif rendah dan skill yang terbatas.
Maka dari itu pemerintah harus terus mendorong kebijakan fiskalnya dengan memprioritaskan SDM agar mampu berdaya saing global. Agar peningkatan-peningkatan baik itu pertumbuhan dan investasi dapat terus berada setingkat negara-negara maju.
Pemerintah sendiri telah menggelontorkan 20 persen dari APBN untuk SDM melalui sektor pendidikan, namun hal tersebut dirasa masih belum optimal. Sebab pemerintah masih dihadapkan dengan berbagai persoalan mengenai pengelolaan sekolah, biaya operasi sekolah, hingga kapasitas tenaga pengajar.
Meski begitu, perempuan yang menjabat sebagai Menkeu tersebut mengakui jika Investasi RI akan melaju di paruh waktu kedua tahun 2019. Hal ini ditunjukkan dengan Penanaman Modal Asing (PMA) yang sudah tumbuh di atas 9 persen pada Kuartal II.
Lalu konsumsi rumah tangga dan belanja yang tercatat 5,17 persen menurut Badan Pusat Statistik (BPS). βItu semua konsisten dengan belanja APBN kita. Di semester kedua kita harap harusnya indikator investasi maupun ekspor yang bisa pick up, gitu ya,β pungkas Menkeu seraya berharap pada semester II tahun 2019 ini pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,2 persen.
(wk/wahy)