Pemerintah masih bersikukuh untuk melaksanakan wacana 'impor' rektor asing. Bahkan Moeldoko sudah menyebutkan jika salah satunya akan didatangkan dari negara kawasan Asia.
- Wahyu
- Kamis, 15 Agustus 2019 - 13:43 WIB
WowKeren - Pemerintah masih bersikukuh dengan wacana untuk melakukan "impor" rektor asing pada perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan untuk permulaan, Pemerintah akan melakukan uji coba di perguruan tinggi swasta (PTS) terlebih dahulu.
Tak ayal jika perguruan tinggi di sejumlah daerah merasa resah dengan adanya wacana tersebut. Di lain sisi, Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengungkap jika tujuan utama untuk mendatangkan rektor asing ke perguruan tinggi Indonesia adalah untuk membangun daya kompetisi kampus Indonesia secara global dan agar tidak ketinggalan dengan negara lain.
“Kompetisi semakin luar biasa di lingkungan global. Upaya menghadirkan rektor asing supaya membangun kompetisi global. Tidak ada tujuan lain,” kata Moeldoko saat ditemui di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (14/8).
Moeldoko juga menyebutkan jika kehadiran rektor asing akan merangsang daya saing dari seluruh rektor lokal di perguruan tinggi Indonesia. Namun kebijakan ini tidak bermaksud untuk menyebut bahwa rektor Indonesia kurang kualifikasi atau kompeten.
Tak hanya itu, Meoldoko menuturkan jika dirinya masih belum mengetahui secara rinci negara mana saja yang akan menjadi taget "impor" rektor asing tersebut. Namun ia dengan pasti menyebutkan jika salah satunya akan dihadirkan dari negara Asia. “Ada nanti dihadirkan dari kawasan Asia, nanti negaranya akan disampaikan,” bebernya.
Sebelumnya, wacana mendatangkan rektor asing dan melakukan uji coba di PTS membuat sejumlah perguruan tinggi di Indonesia resah. Salah satunya adalah Rektor Universitas Surabaya (Ubaya) Ir Benny Lianto.
Benny mengungkapkan jika keberhasilan PT tidak hanya ditentukan oleh rektornya. Namun juga ditentukan sistem dan tim manajemen secara menyeluruh, ia bahkan mengatakan tingkat keberhasilan akan sedikit jika mengandalkan rektor asing saja.
Penerapan rektor asing di PTS dinilai sedikit sulit. Hal ini dikarenakan PTS berada di bawah yayasan, dan setiap yayasan memiliki aturannya sendiri. ”Seperti di Ubaya, ada aturan rektor harus punya pengalaman mengabdi minimal delapan tahun tanpa terputus di PT,” ujar Benny.
Rektor Ubaya itu juga menambahkan jika sebenarnya rektor di Indonesia mampu beradaptasi dan membawa sistem universitas seperti standar internasional. Bahkan para pimpinan PTS sejatinya selalu terbuka dengan hubungan internasional. Maka dari itu ia meminta agar wacana "impor" rektor asing untuk PTS dikaji ulang.
(wk/wahy)