Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyatakan bahwa gempa ini tak berpotensi tsunami. Namun masyarakat sudah panik dan berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 26 September 2019 - 10:28 WIB
WowKeren - Gempa dengan magnitudo 6,8 menggoncang Ambon, Provinsi Maluku, pagi ini (26/9). Gempa dangkal dengan kedalaman 10 kilometer tersebut terjadi pada pukul 06.46 WIB dengan koordinat 3.38 lintang selatan dan 128.43 bujur timur berjarak 40 km Timur Laut Ambon Maluku.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa gempa ini memiliki intensitas maksimum VII-VI MMI. Hal ini menyebabkan jembatan dan bangunan yang tak tahan gempa mengalami kerusakan.
"Hasil analisis https://realtime.inasafe.org menunjukkan bahwa gempa ini terjadi di darat dengan intensitas maksimum VII-VI MMI," jelas Plt Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Agus Wibowo, dilansir Antara. "Nilai ini menunjukkan goncangan kuat dan kemungkinan membuat kerusakan untuk bangunan yang tidak tahan gempa."
Berdasarkan laporan dari Pusdalops BNPB, terdapat satu jembatan retak di Ambon. Selain itu, ada satu bangunan Universitas Pattimura yang mengalami rusak ringan.
Meski gempa hanya terjadi sekitar 7 sampai 10 detik, warga Kota Ambon tetap panik hingga berhamburan keluar kantor dan rumah. Data dari Kecamatan Baguala Desa Waeheru juga mencatat adanya 7 rumah warga yang rusak, satu mobil Avanza rusak, dan seorang warga bernama Aisya Kaplale terluka akibat robohan bangunan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyatakan bahwa gempa ini tak berpotensi tsunami. Namun masyarakat sudah panik dan berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
"Semua panik, masyarakat panik. Getarannya terasa sekitar 5-10 detik," kata petugas BPBD Provinsi Maluku, Berty. Ia menjelaskan bahwa gempa tersebut juga membuat banyak orangtua menjemput pulang anaknya dari sekolah.
Selain itu, Berty juga menuturkan bahwa beberapa pekan sebelumnya beredar informasi mengenai potensi gempa dan tsunami di Maluku. Informasi tersebut memang simpang siur, namun cukup untuk membuat warga panik sehingga beberapa yang tinggal di pesisir mulai mengevakuasi diri.
"Dari Jakarta sebelumnya tanya juga dan saya sudah jelaskan, sebelumnya 3-4 minggu santer beredar akan terjadi gempa dan tsunami," ungkap Berty. "Informasinya dari mana saya juga enggak tahu, tapi jadi was-was yang tinggal di pantai, sudah mengungsi ke gunung."
Oleh sebab itu, Berty terus mengimbau warga agar tetap waspada. Ia juga meminta agar warga menunggu informasi resmi dari BMKG dan tak termakan isu yang belum bisa dipertanggungjawabkan.
(wk/Bert)