Demonstran di DPR Bawa Kuburan, Singgung Kematian Mahasiswa Kendari
Nasional

BEM SI kembali menggelar aksi unjuk rasa dalam rangka mengawal pelantikan DPR/MPR sekaligus menyampaikan kembali tuntutan demonstran yang dinilai belum dikabulkan oleh pemerintah.

WowKeren - Aksi demonstrasi kembali digelar oleh mahasiswa di sekitar Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta pada Selasa (1/10). Digawangi oleh aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), aksi ini digelar demi memperjuangkan kembali tuntutan yang dinilai belum dikabulkan sepenuhnya oleh pemerintah.

Aksi juga digelar dalam rangka "mengawal" pelantikan DPR-MPR periode 2019-2204. Namun ada yang menarik dalam aksi ini, yakni keberadaan replika kuburan di tengah-tengah demonstran.

Dilaporkan oleh Detik News, replika kuburan ini dihadirkan sebagai simbol protes massa terhadap Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) hasil revisi. Pasalnya UU hasil revisi tersebut dinilai melemahkan KPK.

Massa dilaporkan mulai membawa replika kuburan pada pukul 14.50 WIB. Benda berwarna hitam itu lantas dibawa ke depan barikade aparat yang menjaga demonstrasi. Terlihat ada tiga replika kuburan yang dibawa.


Massa lantas menaburkan bunga di atas replika kuburan tersebut. Tampak tulisan RIP KPK 2002-2019 di salah satu replika kuburan. Sementara itu, di replika yang lain terlihat tulisan "Turut Berduka Sahabat Kami Immawan Randi dan Yusuf Qardawi 2019".

Tak hanya membawa replika kuburan, massa yang terdiri atas mahasiswa dari berbagai universitas itu juga membentangkan spanduk di jalan. Di spanduk itu tertulis empat tuntutan.

  1. Merestorasi upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme
  2. Merestorasi demokrasi hak rakyat untuk berpendapat, penghormatan perlindungan dan pemenuhan HAM serta keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan
  3. Merestorasi pelaksanaan reforma agraria dan perlindungan SDA serta tenaga kerja dari ekonomi yang eksploratif
  4. Merestorasi kesatuan bangsa dengan penghapusan diskriminasi antaretnis, penghapusan kesenjangan ekonomi dan perlindungan perempuan

Di sisi lain, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi massa Muhammad Abdul Basit menyebut demonstrasi berlangsung tertib. Pasalnya, ungkap Abbas, demikian biasa ia dipanggil, gerakan yang dibangun merupakan gerakan intelektual.

"Kita aksi solidaritas, mengingat kawan-kawan kita yang sudah menjadi korban di Kendari, saudara Randi dan saudara Yusuf, ada pelajar kita juga ya," ujar Abbas. "Ini jadi poin kita juga menyampaikan kepada masyarakat luas bahwa sebenarnya aksi kerusuhan yang terjadi sampai saat ini tuh bukan dari mahasiswa, itu bukan narasi dan bukan pergerakan mahasiswa."

"Pergerakan mahasiswa ya pergerakan intelektual," imbuhnya. "Di mana kita membangun narasi membuat tuntutan kepada mereka wakil rakyat atau pun pemerintah."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait