Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang juga merupakan mantan Bos Gojek Nadiem Makarim menceritakan pengalaman pertamanya saat menghadiri rapat di Gedung DPR pada Rabu (6/11).
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 06 November 2019 - 19:05 WIB
WowKeren - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menceritakan pengalaman pertamanya datang ke Gedung DPR. Nadiem mengaku gugup saat rapat perdananya di Gedung DPR.
Ia pun meminta maaf jika dirinya masih sedikit kaku. Ia pun meminta dukungan agar dirinya bisa menjalankan amanahnya sebagai menteri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Pertama, maaf kalau saya sedikit kaku-kaku, ini pertama kalinya saya masuk ke gedung ini," kata Nadiem di Kompleks MPR/DPR Senayan, Jakarta, Rabu (6/11). "Jadi mohon maaf kalau saya sedikit kaku, sedikit gugup. Tapi ya sebagai representasi milenial di pemerintahan kabinet Jokowi semoga saya tidak mengecewakan generasi saya."
Hal itu disampaikan Nadiem saat memberikan pernyataan pertama dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi X. Ia pun meminta agar jajaran Komisi X membantunya menjalankan tugas. "Mohon bantuan bapak-bapak, ibu-ibu untuk saya belajar. Saya baru di pemerintahan," ucap Nadiem.
Tak hanya itu, ia pun juga meminta maaf karena hanya menyiapkan satu lembar rancangan kerja. "Saya akan lakukan paparan, tapi mohon maaf sebelumnya, paparan saya mungkin sedikit berbeda, hanya 1 halaman yang akan saya sajikan dan saya akan bicarakan satu per satu," imbuh mantan CEO Gojek tersebut.
Ia pun menuturkan bahwa meskipun baru pertama kali, rapat tersebut merupakan pengalaman unik baginya. "Mengenai raker pertama tadi. Ini pengalaman pertama saya, jadinya cukup unik," sebut Nadiem.
Sementara itu terkait kurikulum pendidikan, ia pun akan berusaha menjalankannya sesuai arahan Presiden Joko Widodo alias Jokowi. Dikatakannya, Jokowi meminta agar ada perubahan kurikulum.
"Sesuai arahan Pak Presiden, maksudnya perubahan kurikulum itu bukan berarti kontennya saja yang berubah," lanjut Nadiem. "Tapi esensi dari arahan Pak Presiden adalah satu, penyederhanaan dan juga cara penyampaian kurikulum itu harus berbeda."
(wk/zodi)