Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily menilai bahwa bahasa Tiongkok seharusnya tidak dijadikan sebagai syarat kelulusan namun mata pelajaran opsional saja.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 08 Januari 2020 - 17:01 WIB
WowKeren - DPR ikut menanggapi wacana Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi untuk menyertakan tiga bahasa asing sebagai syarat kelulusan madrasah aliyah. Adapun bahasa asing yang dimaksud adalah Mandarin, Arab, dan Inggris.
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily mempertanyakan langkah Fachrul terkait wacana tersebut. Menurutnya, kemampuan untuk menguasai bahasa Mandarin seharusnya hanya bersifat opsional.
"Bahasa Mandarin kan seharusnya opsional saja," kata Ace dilansir CNN Indonesia, Rabu (8/1). "Jika memang ingin menguasai bahasa asing."
Saat ini, Tiongkok memang tengah menjadi salah satu negara yang memiliki kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Oleh sebab itu, bahasa Mandarin memang penting untuk dikuasai. Meski demikian, bukan berarti bahasa tersebut menjadi satu-satunya yang harus dikuasai.
Lebih jauh, ia juga menyinggung Jepang dan Korea. Menurutnya, kedua negara tersebut juga memiliki teknologi yang maju yang sudah diakui dunia. Begitu juga dengan Jerman dengan industri manufakturnya yang tak perlu diragukan.
"Keduanya itu juga negara penting yang teknologinya juga tidak diragukan lagi," lanjut Ace. "Atau kenapa bahasa Jerman yang sudah sangat teruji sebagai negara yang memiliki teknologi dan industri manufaktur yang hebat?"
Oleh sebab itu, Ace meminta agar Fachrul bisa lebih cermat dalam mengambil keputusan. Penguasaan bahasa bagi pelajar juga harus disesuaikan dengan persaingan global yang ada saat ini.
"Seharusnya, penguasaan bahasa asing bukan hanya bahasa Mandarin saja selain Inggris dan Arab," tutur Fachrul. "Tentu harus disesuaikan dengan persaingan global yang kita hadapi saat ini."
Sebelumnya, wacana yang digulirkan Menag ini mendapat dukungan dari Muhammadiyah. Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menilai wacana penguasaan bahasa Mandarin oleh siswa madrasah aliyah merupakan hal yang wajar. Menurutnya, hal tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan SDM, mengingat Indonesia dan Tiongkok memang memiliki hubungan kerja sama investasi yang erat.
"Salah satunya yang harus dipersiapkan yaitu SDM yang menguasai bahasa dari negara mitra," kata Anwar dilansir CNN Indonesia, Rabu (8/1). "Dalam hal ini adalah bahasa Mandarin."
(wk/zodi)